“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Al Hadid: 22-23).
Seorang mukmin yang sempurna imannya akan menyadari di balik rencana Allah ada banyak kebaikan meskipun mungkin itu terasa berat untukmu. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Jadi jangan pernah merasa resah atau gelisah dengan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala serta tak perlu iri dengan takdir yang telah ditetapkan untuk orang lain, karena kewajiban hamba adalah beriman pada semua ketentuan Allah Ta’ala dengan hati ikhlas dan yakin akan pertolongan Allah Ta’ala.
Saat Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan perkara-perkara yang kurang disukai, manusia hendaknya berikhtiar menjadi mukmin terbaik dengan berdoa, agar dimudahkan menjalankan ketaatan, dijauhkan dari dosa, selalu berbaik sangka pada Allah Ta’ala dan menempuh jalan-jalan yang mengantarkan pada takdir yang baik.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata. “ Sesungguhnya Allah Azza wajalla telah menakdirkan berbagai macam ketentuan-ketentuan, Allah Azza wajalla menciptakan makhluk dengan takdir, membagi ajal mereka dengan takdir, membagi rezeki mereka dengan takdir, membagi ujian juga dengan takdir, membagi keselamatan dengan takdir, memerintah dan melarang (juga dengan takdir). Dan Al Iman Ahmad berkata : “ Takdir adalah kekuasaan Allah” (Shifaa Al-Aliil, Ibnu Qayyim, 28) Wallahu a’alam.
