Beberapa orang ada yang hidup bukan karena mereka bahagia. Bukan juga karena mereka kuat. Mereka bertahan hanya karena pagi terus datang dan tubuh mereka terlalu terbiasa untuk berhenti.
Mereka bangun dengan mata sembab yang disamarkan air wudhu, kopi pahit atau senyum tips di depan orang rumah. Mereka berjalan seperti biasa, bekerja seperti biasa, menjawab pesan seperti biasa.
Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang sudah lama runtuh dan belum sempat dibangun kembali.
Kadang dunia jarang peduli pada orang yang diam-diam hancur.
Selama kamu masih bisa tertawa sedikit, masih bisa datang tepat waktu, masih bisa berkata “aku baik-baik saja”, orang lain menganggap semuanya aman.
Padahal ada malam-malam ketika dadamu terasa sesak hanya karena harus menghadapi dari esok lagi.
Ada lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata
Tapi lihatlah, kamu masih di sini
Masih bertahan
Masih mencoba
Meski nyaris menyerah setiap hari
Mungkin kamu sendiri bingung, apa sebenarnya yang membuatmu tetap hidup sejuah ini. Kadang jawabannya sederhana sekali.
Karena masih ada ibu yang menunggu pulang
Karena masih ada anak kecil yang memanggil dengan mata penuh percaya
Karena masih ada kebutuhan yang harus diselesaikan
Karena memang ajal belum datang
Betapa romantisnya kehidupan ini, kita dipaksa kuat oleh kebutuhan.
Atau mungkin karena ada janji kecil yang pernah kamu buat diam-diam pada dirimu sendiri.
“Aku cuma ingin bertahan sedikit lagi.”
Sedikit lagi
Lalu sedikit lagi
Dan tanpa sadar, kamu sudah melewati begitu banyak hari yang dulu kamu kira tidak akan sanggup dihadapi. Ada orang yang bertahan iman karena percaya setelah semua ini selesai, tuhan tidak mungkin menutup mata terhadap luka yang dipikul sendirian setiap malam.
Ada juga yang bertahan karena cinya. Meski cintanya tak selalu hadir dalam bentuk pelukan. Kadang ia hanya berupa pesan singkat yang datang di waktu yang tepay. Kadang hanya suara seseorang yang berkata, “jangan pergi dulu.”
Dan sering kali, kita bertahan karena hal-hel kecil yang tampak sepele.
Langit sore
Lagu lama
Aroma hujan
Kucing yang tidur di teras rumah atau secangkir kopi hangat yang menemani sunyi tanpa banyak tanya
Karena ketika hidup terasa terlalu berat hal-hal kecil itulah yang diam-diam menyelamatkan kita dari teggelam sepenuhnya.
Meski begitu, bertahan tetap melelahkan. tidak semua orang kuat dan sanggup berkata jujur tentang lelahnya.
Ada yang sudah terlalu lama menjadi tempat bersandar bagi orang lain sampai lupa cara meminta tolong
Ada yang terus terlihat tenang karena takut dinggap merepotkan jika menunjukkan luka
Padahal manusia bukan batu
Hari bisa retak eski tidak bersuara
Dan orang yang paling sering berkata “tidak apa-apa” biasanya sedang memikul sesuatu yang tidak sanggup ia ceritakan.
Jika hari ini kamu masih bertahan, meski hidup terasa berat dan dunia berkali-kali membuatmu ingin menyerah, mungkin itu bukan karena kamu lemah yang takut berhenti.
Mungkin justru karena ada bagian kecil di dalam dirtimu yang masih percaya.
Bahwa hidup belum selesai
Bahwa masih ada hari yang lebih ringan
Masih ada tawa yang belum sempat datang
Masih ada tenang yang sedang berjalan pelan mencarimu
Dan sampai hari itu tiba, kamu tetap berjalan meski terseok-seok
Sebab tidak semua perjuangan terlihat gagah. Sebagian hanya tampak seperti seseorang yang berhasil bangun dari tempat tidur dan menjalani hari tanpa benar-benar tahu bagaimana caranya.
Namun itu tetap perjuangan dan itu tetap berharga.
***Pelangi Senja*** kota hujan
