Samarkand, Uzbekistan — Momen bersejarah tercipta di panggung dunia ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan pidato nasional Indonesia dalam bahasa Indonesia pada Sidang Umum ke-43 UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, Selasa (4/11/2025).
Pidato tersebut menjadi penanda resmi bahwa bahasa Indonesia kini diakui sebagai bahasa kerja ke-10 UNESCO, sebuah pencapaian besar yang menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara dengan bahasa berpengaruh global seperti Inggris, Prancis, Arab, dan Mandarin.
Mendikdasmen membuka pidatonya dengan pantun yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara:
“Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan.
Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,”
ucapnya, disambut tepuk tangan hangat dari para delegasi.
Dalam pidatonya, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada UNESCO dan seluruh negara anggota atas dukungan mereka terhadap pengakuan bahasa Indonesia. Ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia telah berfungsi sebagai simbol pemersatu bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
“Bahasa Indonesia telah lama menjadi jembatan kesatuan di antara lebih dari 17.000 pulau, 700 bahasa daerah, dan 1.300 kelompok etnik. Hari ini, bahasa Indonesia kembali menegaskan eksistensinya di dunia internasional sebagai jembatan pengetahuan antarnegara,” ujarnya.
Menurut Mendikdasmen, pengakuan ini bukan hanya soal bahasa, tetapi juga tentang pengakuan dunia terhadap kontribusi Indonesia dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan perdamaian global.
Penggunaan bahasa Indonesia di forum internasional UNESCO menunjukkan semakin kuatnya peran Indonesia dalam diplomasi budaya. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium untuk memperkenalkan nilai-nilai bangsa yang menjunjung keberagaman dan harmoni.
“Ini adalah bukti bahwa bahasa Indonesia tidak hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya dunia yang menyatukan,” tambah Mu’ti.
Di akhir pidatonya, Mendikdasmen kembali menutup dengan pantun penuh pesan damai:
“Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan.
Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.”
Pidato ini mendapat apresiasi luas dari peserta sidang dan menandai era baru diplomasi bahasa Indonesia di kancah global. Pengakuan UNESCO terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja resmi menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan dan kebudayaan internasional.
