Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Menata Hati dan Belajar Menerima Kenyataan dengan Ikhlas

Menata Hati dan Belajar Menerima Kenyataan dengan Ikhlas

admrozi
admrozi
calendar_today
schedule 3 min read

Sangat menyedihkan memang saat kita kehilangan  sesuatu yang kita sayangi, sesuatu yang sangat wajah dan sangat manusiawi. Jangankan kita hanya manusia biasa yang tidak pandai manata hati, ketika Rasulullah SAW pun saat kehilangan dua orang yang sangat berjasa dalam kehidupannya, Beliau terpukul, yaitu pada saat istri tercintanya Siti Khatidjah dan pamannya Abu Thalib meninggal dunia.

Beliau merasakan kesedihan yang amat sangat, sampai-sampai Fatimah putrid Beliau mengambil alih urusan keluarga sambil meneguhkan hati Rasulullah. Dalam kitab Ibnu Qayyim mengatakan jika sesungguhnya dunia ini tempat berbagai macam musibah, penyakit, penderitaan dan kesusahan disamping kesenangan dunia.

Pada saat Rasulullah bersedih hati, kemudian Allah meneguhkan hati Rasulullah yang sedang merasa bersedih itu dengan diturunkannya surat Al Insyiarah ayat 1-8 yang artinya : “Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuahanmulah hendaknya kamu berharap.”

Maka kita sebagai manusia, harus tetap berusaha untuk bisa tetap tegar dan kuat saat kita ditimpa suatu musibah, jangan berlarut dalam satu masalah karena mashi banyak hal positif yang bisa kita lakukan agar hidup tetap berjalan karena bahagia ada pada diri kita sendiri.

Ada saatnya kita merasakan kebahagiaan dan ada saatnya pula kita akan merasakan kehilangan sesuatu yang kita cintai atau kita kasihi, sudah sepantasnya kita merenungi dan lakukan hal yang positif bukan hanya sekedar meratapi kesedihan atau sampai kehilangan arah dan tujuan hidup.

Sudah seharusnya kita sebagai hamba yang beriman harus selalu berbaik sangka dengan Allah, karena Allah adalah sesuai dengan apa yang kita prasangkakan. Jika seorang hamba sudah tidak percaya lagi kepada Allah, tidak percaya lagi akan pertolongan-NYA, maka Allah akan menjauhi kita. Begitu pula sebaliknya jika seorang hamba mencintai-NYA begitu juga Allah akan mencintai hambaNYA, Allah akan memberikan perlindungan kepada hamba-NYA yang membutuhkan-NYA.

Memang seseorang yang sedang bersedih atau sedang ditimpa masalah, merasa terpuruk dan bersedih dengan sangat tapi mau segera bangkit. Maka disitulah sebenarnya seseorang diuji, saat itulah kita harus bisa bagaimana mengelola hati yang sedang berduka atau sedang menghadapi masalah. Kita harus mampu merubah sudut pandang dan harus bisa mengambil pelajaran dari berbagai macam pengalaman hidup yang kita jalani.

Percayalah bahwa segala Sesutu yang menimpa kita, kesedihan atau musibah itu dengan berjalannya waktu pasti akan berlalu. Dan percayalah dan juga harus yakin bahwa Allah akan mengganti keikhlasan menjadi sesuatu yang indah dan memberikan pahala atau menggantinya dengan yang lebih baik. Maka dari itu mulailah memahami diri sendiri, jika merasa sedih yang berlebihan, jangan terlalu dipikirkan dan jangan terlalu diratapi yang mendalam, karena dengan tanpa melakukan usaha apapun kita akan selamanya merasa terpuruk dan larut dalam kesedihan itu yang pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri. Segeralah untuk belajar ikhlas buka hati dan pikiran tata hati dengan segeralah move on, tebarkan kebaikan dan senyuman.

Tawakal dan berserah diri kepada Allah adalah hal yang sangat penting yang harus kita lakukan pada saat kita sedang tertimpa suatu masalah, itulah sikap seorang muslim yang taat beribadah, rubah cara pandang terhadap kehidupan dan tingkatkan ibadah kita dan hanya berharap kepada Allah dan hanya menggantungkan hidup mati kepada Allah, karena segala sesuatu yang ada pada diri kita semuanya terjadi hanya karena Allah semata.