Nusaibah binti Ka’ab adalah wanita pemberani perisai Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam. Di medan perang Uhud, ketika debu memenuhi langit dan barisan kaum muslimin porak poranda ada satu sosok yang berdiri tegak di hadapan Rasulullah Shallallahu’aalahi wa sallam.
Bukan panglima besar, bukan pemimpin kabilah, ia seorang wanita, namanya Nusaibah binti Ka’ab al-Maziniyyah, yang lebih dikenal sebagai Ummu ‘Ammarah.
Awalnya Hanya Membawa Air
Pada pagi hari Perang Uhud, Nusaibah datang bukan untuk bertempur, ia hanya membawa kantong air, menolong prajurit yang terluka. Namun ketika pasukan pemanah meninggalkan pos mereka, keadaan berbalik, musuh menyerbu dari belakang. Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam berada dalam bahaya, saat itu…banyak perisai manusia gugur, namun iman Nusaibah justru bangkit.
Ketika Seorang Ibu Menjadi Benteng Nabi
Melihat Rasulullah di kepung musuh, Nusaibah menjayuhkan kantong airnya, mengambil pedang dan perisai. Ia berdiri di depan Rasulullah, setiap tebasan yang menuju Nabi, di tahannya dengan tubuhnya.
Setiap anak panah yang meluncur, ia hadapi tanpa gentar. Tubuhnya terluka parah. Lebih dari dua belas luka menganga, namun kakinya tidak mundur.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat itu: “ Ke mana pun aku menoleh, aku melihat Ummu ‘Ammarah berperang membelaku.” (HR. Muslim – makna riwayat)
Do’a Rasululllah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk Ummu ‘Ammarah:
Dalam panasnya pertempuran, Rasulullah melihat luka besar di pundaknya, beliau bersabda:
“ Ya Allah, jadikan mereka (keluarganya) teman-temanku di surga”.
Mendengar do’a itu, Nusaibah berkata dengan suara yang tenang. “ Aku tidak peduli apa yang menimpaku di udnia setelah doa itu.”
Apa arti luka jika surga telah dijanjikan?
Ibu yang Mengorbankan Segalanya
Nusaibah tidak sendirian, ia berperang bersama anak-anaknya. Ketika salah satu anaknya terluka. Ia mengikat lukanya dengan tangannya sendiri, lalu ia berkata” bangkitlah dan bela Rasulullah!”
Cinta kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam lebih kuat dari rasa takut kehilangan.
Bukan Hanya di Uhud
Keberanian Nusaibah tidak berhenti di Uhud, ia juga hadir dalam:
- Perang Hunain
- Perjanjian Aqabah
Bahkan melawan Musailamah al-Kadzdzad, hingga tanggannya terpotong, namun imannya tidak pernah patah.
Pelajaran Abadi
Nusaibah mengajarkan dunia bahwa:
- Membela Rasulullah tidak mengenal gender
- Keberanian lahir dari iman, bukan otot
- Wanita mulia bukan hanya dilindungi, tapi yang siap melindungi kebenaran
Ia bukan sekadar sahabat, ia adalah perisai hidup Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Jika dunia hari ini mencari sosok wanita kuat, Islam telah lamna menunjukkannya. Namanya adalah Nusaibah binti Ka’ab. Wanita yang tubuhnya penuh luka, namun hatinya utuh oleh cinta kepada Rasulullah shallallhu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab.
