Naskah khutbah Jumat lengkap dari Khutbah pertama hingga khutbah kedua, tentang cara hidup bahagia.
Khutbah Jumat merupakan salah satu rangkaian ibadah dalam melaksakan ibadah shalat Jumat bagi kaum muslim.
Berikut adalah khutbah Jumat dengan tema 4 cara hidup bahagia dalam Islam.
Khutbah I
الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلّٰه٠الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلّٰه٠الَّذÙيْ هَدَانَا Ø³ÙØ¨ÙÙ„ÙŽ Ø§Ù„Ø³Ù‘Ù„ÙŽØ§Ù…ÙØŒ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙْهَمَنَا Ø¨ÙØ´ÙŽØ±Ùيْعَة٠النَّبÙيّ Ø§Ù„Ù’ÙƒÙŽØ±ÙŠÙ…ÙØŒ أَشْهَد٠أَنْ لَا اÙلٰهَ Ø¥Ùلَّا الله ÙˆÙŽØÙ’دَه٠لَا شَرÙيْكَ Ù„ÙŽÙ‡ÙØŒ ذÙÙˆ Ø§Ù„Ù’Ø¬ÙŽÙ„ÙŽØ§Ù„Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø¥ÙƒÙ’Ø±ÙŽØ§Ù…ÙØŒ وَأَشْهَد٠أَنَّ Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ وَنَبÙيَّنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ عَبْدÙÙ‡Ù ÙˆÙŽ رَسÙوْلÙÙ‡ÙØŒ اللّٰهÙمَّ صَلّ٠وَسَلّÙمْ وَبارÙكْ عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘Ø¯Ù ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اٰلÙÙ‡ وَأَصْØÙŽØ§Ø¨ÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ØªÙ‘ÙŽØ§Ø¨ÙØ¹ÙŠÙ†ÙŽ Ø¨ÙØ¥ØÙ’سَان٠إلَى يَوْم٠الدّÙيْن٠أَمَّا بَعْدÙ: ÙَيَايّÙهَا Ø§Ù„Ù’Ø¥ÙØ®Ù’ÙˆÙŽØ§Ù†ÙØŒ أوْصÙيْكÙمْ ÙˆÙŽ Ù†ÙŽÙْسÙيْ Ø¨ÙØªÙŽÙ‚ْوَى الله٠وَطَاعَتÙه٠لَعَلَّكÙمْ تÙÙÙ’Ù„ÙØÙوْنَ. قَالَ الله٠تَعَالَى ÙÙÙŠ Ø§Ù’Ù„Ù‚ÙØ±Ù’اٰن٠اْلكَرÙيمْ: أَعÙÙˆÙ’Ø°Ù Ø¨ÙØ§Ù„له٠مÙÙ†ÙŽ الشَّيْطَان٠الرَّجÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ Ø¨ÙØ³Ù’م٠الله٠الرَّØÙ’مٰن٠الرَّØÙيْمÙ: يٰٓاَيّÙهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوا اتَّقÙوا اللّٰهَ ÙˆÙŽÙ‚ÙوْلÙوْا قَوْلًا سَدÙيْدًاۙ، ÙŠÙ‘ÙØµÙ’Ù„ÙØÙ’ Ù„ÙŽÙƒÙمْ اَعْمَالَكÙمْ وَيَغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙŽÙƒÙمْ ذÙÙ†ÙوْبَكÙمْۗ وَمَنْ ÙŠÙ‘ÙØ·Ùع٠اللّٰهَ وَرَسÙوْلَهٗ Ùَقَدْ Ùَازَ Ùَوْزًا عَظÙيْمًا. وَقَالَ تَعَالَى: يٰٓاَيّÙهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوا اتَّقÙوا اللّٰهَ ØÙŽÙ‚Ù‘ÙŽ تÙقٰىتÙهٖ وَلَا تَمÙوْتÙنَّ اÙلَّا وَاَنْتÙمْ Ù…Ù‘ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùوْنَ. صَدَقَ الله٠العَظÙيمÙ
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah, Setelah kita menjalankan shalat fardhu lima waktu, kita terbiasa berdoa:
رَبَّنا آتÙنَا ÙÙÙŠ الدّÙنْيا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¢Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙ‚Ùنَا عَذَابَ النَّارÙ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Pertanyaannya, bagaimana cara menggapai hidup bahagia? Tentu kita akan menjawabnya sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasulullah Nabi Muhammad saw. Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97 Allah berfirman:
مَنْ عَمÙÙ„ÙŽ ØµÙŽØ§Ù„ÙØÙ‹Ø§ مّÙنْ ذَكَر٠اَوْ اÙنْثٰى ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŒ ÙÙŽÙ„ÙŽÙ†ÙØÙ’ÙŠÙيَنَّهٗ ØÙŽÙŠÙ°ÙˆØ©Ù‹ Ø·ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¨ÙŽØ©Ù‹Ûš وَلَنَجْزÙيَنَّهÙمْ اَجْرَهÙمْ Ø¨ÙØ§ÙŽØÙ’Ø³ÙŽÙ†Ù Ù…ÙŽØ§ كَانÙوْا يَعْمَلÙوْنَ
Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS an-Nahl: 97).
Imam al-Qurtubi menjelaskan di dalam kitabnya Tafsir al-Qurtubi juz 10 halaman 174 bahwa terdapat beberapa tanda hidup bahagia.
Pertama adalah rezeki yang halal. Rezeki yang halal membuat hidup menjadi bahagia dan berkah, segala urusan menjadi mudah, keluarga penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah, putra-putrinya saleh dan salehah, jiwa raga semangat untuk ibadah, harta melimpah ruah, bisa digunakan untuk haji dan umrah ke Makkah, serta ziarah Nabi Muhammad saw di Madinah, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Âmîn. Rezeki yang halal menjadi pertanda seseorang hidup bahagia di dunia ini. Hal ini terbukti jika kita melihat beberapa contoh dalam kehidupan nyata: sebuah keluarga yang serba pas-pasan, membesarkan putra putrinya dengan serba kekurangan, namun dengan harta yang halal, alhmdulillah berkah dan dapat untuk mengarungi kehidupan. Walaupun jika dirumuskan dengan matematika manusia, tidak akan cukup. Namun matematika Allah dapat mencukupinya. Bagaimana tidak, jika sebulan penghasilan kurang dari satu juta, harus menghidupi 5 anaknya, namun bisa cukup. Tidak hanya itu, karena berkah rezeki halal, anak-anaknya juga menjadi orang yang dapat dibanggakan. Rezeki yang halal merupakan tanda hidup bahagia.
Kedua, qanaah, ridha dengan pemberian Allah, dalam bahasa Jawa disebut nerimo ing pandum (menerima terhadap bagian yang diberikan Allah SWT). Seseorang yang memiliki uang banyak, jabatan yang tinggi, harta yang melimpah ruah, namun tidak memiliki sifat qanaah, ia akan selalu kurang, serakah, rakus, dan tentunya hidupnya tidak bahagia. Nabi Muhammad saw bersabda dalam hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz 2 halaman 730:
قَدْ Ø£ÙŽÙْلَØÙŽ Ù…ÙŽÙ†Ù’ أَسْلَمَ، ÙˆÙŽØ±ÙØ²ÙÙ‚ÙŽ ÙƒÙŽÙَاÙًا، وَقَنَّعَه٠الله٠بÙمَا آتَاهÙ
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezeki, dan diberikan qanaah oleh Allah atas apa yang diberikan kepadanya.
Bagaimana agar kita bisa qanaah? Nabi bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Ø§Ù†Ù’Ø¸ÙØ±Ùوا Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ مَنْ أَسْÙÙŽÙ„ÙŽ Ù…ÙنْكÙمْ، وَلَا ØªÙŽÙ†Ù’Ø¸ÙØ±Ùوا Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ مَنْ Ù‡ÙÙˆÙŽ ÙَوْقَكÙمْ، ÙÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ أَجْدَر٠أَنْ لَا تَزْدَرÙوا Ù†ÙØ¹Ù’مَةَ الله٠عَلَيْكÙمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang ada di bawah kalian, jangan melihat seseorang yang ada di atas kalian, hal tersebut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian (HR. Muslim).
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki mobil harus bersyukur karena masih banyak orang yang naik motor dan tidak mampu membeli mobil. Mereka yang naik motor harus bersyukur karena masih banyak yang naik sepeda dan tidak mampu membei motor. Orang yang naik sepeda juga wajib bersyukur, karena masih ada yang berjalan kaki dan tidak mampu membeli sepeda. Begitu juga orang yang berjalan, harus bersyukur karena masih ada yang tidak bisa berjalan, dan begitu seterusnya”. Orang yang memiliki sifat qanaah menunjukkan hidupnya Bahagia dan tidak susah.
Ketiga, taufiquhu ilath-thâ‘at, yakni mendapatkan pertolongan Allah untuk melakukan kebaikan, ibadah, dan taat kepada Allah swt. Bagaimana agar kita mendapatkan pertolongan Allah? Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 7:
يٰٓاَيّÙهَا الَّذÙيْنَ اٰمَنÙوْٓا اÙنْ ØªÙŽÙ†Ù’ØµÙØ±Ùوا اللّٰهَ ÙŠÙŽÙ†Ù’ØµÙØ±Ù’ÙƒÙمْ ÙˆÙŽÙŠÙØ«ÙŽØ¨Ù‘ÙØªÙ’ اَقْدَامَكÙمْ
Artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Menurut Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Jamiul Bayan juz 21 halaman 191, Allah akan menolong orang yang beramal sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhoi Allah swt, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah. Seperti orang yang menuntut ilmu, mengajar di lembaga keilmuan, orang yang memakmurkan masjid, dan sesamanya. Merekalah orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah dan hidupnya akan diwarnai dengan kebahagiaan.
Keempat, halâwah thâ‘ât, yaitu merasakan manisnya ibadah dan taat kepada Allah swt. Nabi bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, juz 1 halaman 12:
ثَلَاثٌ مَنْ ÙƒÙنَّ ÙÙيه٠وَجَدَ ØÙŽÙ„َاوَةَ الْإÙيمَان٠أَنْ ÙŠÙŽÙƒÙوْنَ اللّٰه٠وَرَسÙولÙه٠أَØÙŽØ¨Ù‘ÙŽ Ø¥Ùلَيْه٠مÙمَّا سÙوَاهÙمَا ØŒ وَأَنْ ÙŠÙØÙØ¨Ù‘ÙŽ الْمَرْءَ لَا ÙŠÙØÙØ¨Ù‘Ùه٠إÙلَّا Ù„Ùلَّه٠، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعÙودَ ÙÙÙ‰ الْكÙÙْر٠كَمَا يَكْرَه٠أَنْ ÙŠÙقْذَÙÙŽ ÙÙÙŠ النَّارÙ
Artinya: “Ada tiga orang yang dapat menemukan manisnya keimanan: (1) orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul dibanding selainnya, (2) orang yang mencintai seseorang karena Allah, (3) orang yang membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dimasukkan ke neraka.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa anjuran Rasulullah agar kita menggapai kebahagiaan adalah memperoleh rezeki yang halal, qanaah (menerima) apa yang telah diberikan Allah, mendapat pertolongan Allah dalam ketaatan, dan dapat merasakan nikmatnya keimanan. Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat Allah agar kita menjadi manusia yang bahagia hidup di dunia dan akhirat. Amin.
باَرَكَ الله٠لÙيْ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù‚ÙØ±Ù’آن٠العَظÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙَعَنÙيْ ÙˆÙŽØ¥ÙيّاكÙمْ Ø¨ÙØ§Ù„آيات٠وذÙكْر٠الØÙŽÙƒÙيْمÙ. إنّه٠تَعاَلَى جَوّادٌ كَرÙيْمٌ Ù…ÙŽÙ„ÙÙƒÙŒ بَرٌّ رَؤÙوْÙÙŒ رَØÙيْمٌ
Khutbah II
اَلْØÙŽÙ…ْد٠لÙلّٰه٠عَلىَ Ø¥ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ùه٠وَالشّÙكْر٠لَه٠عَلىَ تَوْÙÙيْقÙه٠وَاÙمْتÙنَانÙÙ‡Ù. وَأَشْهَد٠أَنْ لَا Ø¥Ùلٰهَ Ø¥Ùلَّا الله٠وَØÙ’دَه٠لَا شَرÙيْكَ لَه٠وَأَشْهَد٠أنَّ Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯ÙŽÙ†ÙŽØ§ Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙه٠الدَّاعÙÙŠ إلَى Ø±ÙØ¶Ù’وَانÙÙ‡Ù. اَللّٰهÙمَّ صَلّ٠عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù ÙˆÙØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اٰلÙه٠وَأَصْØÙŽØ§Ø¨Ùه٠وَسَلّÙمْ تَسْلÙيْمًا ÙƒÙŽØ«Ùيْرًا أَمَّا بَعْد٠Ùَيَا اَيّÙهَا Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ§Ø³Ù Ø§ÙØªÙ‘ÙŽÙ‚Ùوااللهَ ÙÙيْمَا أَمَرَ وَانْتَهÙوْا عَمَّا Ù†ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمÙوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكÙمْ Ø¨ÙØ£ÙŽÙ…ْر٠بَدَأَ ÙÙيْه٠بÙÙ†ÙŽÙْسÙه٠وَثَـنَى بÙمَلآ ئÙكَتÙه٠بÙÙ‚ÙØ¯Ù’سÙه٠وَقَالَ تَعاَلَى Ø¥Ùنَّ اللهَ وَمَلآئÙÙƒÙŽØªÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØµÙŽÙ„Ù‘Ùوْنَ عَلَى النَّبÙÙ‰ يآ اَيّÙهَا الَّذÙيْنَ آمَنÙوْا صَلّÙوْا عَلَيْه٠وَسَلّÙÙ…Ùوْا تَسْلÙيْمًا. اللّٰهÙمَّ صَلّ٠عَلَى Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯Ùنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù ØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ الله٠عَلَيْه٠وَسَلّÙمْ وَعَلَى Ø¢Ù„Ù Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¯Ùناَ Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اَنْبÙيآئÙÙƒÙŽ ÙˆÙŽØ±ÙØ³ÙÙ„ÙÙƒÙŽ وَمَلآئÙكَة٠اْلمÙقَرَّبÙيْنَ وَارْضَ اللّٰهÙمَّ عَن٠اْلخÙÙ„ÙŽÙÙŽØ§Ø¡Ù Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙŽØ§Ø´ÙØ¯Ùيْنَ أَبÙÙ‰ بَكْر٠وَعÙمَرَ ÙˆÙŽØ¹ÙØ«Ù’مَانَ وَعَلÙيّ وَعَنْ بَقÙيَّة٠الصَّØÙŽØ§Ø¨ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ØªÙ‘ÙŽØ§Ø¨ÙØ¹Ùيْنَ ÙˆÙŽØªÙŽØ§Ø¨ÙØ¹ÙÙŠ Ø§Ù„ØªÙ‘ÙŽØ§Ø¨ÙØ¹Ùيْنَ Ù„ÙŽÙ‡Ùمْ Ø¨ÙØ§ÙØÙ’سَان٠اÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْم٠الدّÙيْن٠وَارْضَ عَنَّا مَعَهÙمْ Ø¨ÙØ±ÙŽØÙ’Ù…ÙŽØªÙÙƒÙŽ يَا أَرْØÙŽÙ…ÙŽ الرَّاØÙÙ…Ùيْنَ اَللّٰهÙمَّ اغْÙÙØ±Ù’ Ù„ÙÙ„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŽØ§ØªÙ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„Ùمَات٠الْاَØÙ’يَآء٠مÙنْهÙمْ وَاْلاَمْوَات٠اللّٰهÙمَّ Ø£ÙŽØ¹ÙØ²Ù‘ÙŽ Ø§Ù’Ù„Ø¥ÙØ³Ù’لَامَ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ وَأَذÙلَّ Ø§Ù„Ø´Ù‘ÙØ±Ù’ÙƒÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØ´Ù’رÙÙƒÙيْنَ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽÙƒÙŽ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙÙˆÙŽØÙ‘ÙØ¯Ùيَّةَ ÙˆÙŽØ§Ù†Ù’ØµÙØ±Ù’ مَنْ نَصَرَ الدّÙيْنَ وَاخْذÙلْ مَنْ خَذَلَ Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ ÙˆÙŽ Ø¯ÙŽÙ…Ù‘ÙØ±Ù’ أَعْدَاءَ الدّÙيْن٠وَاعْل٠كَلÙمَاتÙÙƒÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ يَوْم٠الدّÙيْنÙ. اللّٰهÙمَّ ادْÙَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازÙÙ„ÙŽ ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ وَسÙوْءَ اْلÙÙØªÙ’Ù†ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ù…ÙØÙŽÙ†ÙŽ مَا ظَهَرَ Ù…Ùنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدÙنَا اÙنْدÙونÙيْسÙيَّا خَآصَّةً ÙˆÙŽØ³ÙŽØ§Ø¦ÙØ±Ù اْلبÙÙ„Ù’Ø¯ÙŽØ§Ù†Ù Ø§Ù’Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمÙيْنَ. رَبَّنَا آتÙناَ ÙÙÙŠ الدّÙنْيَا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙÙÙ‰ Ø§Ù’Ù„Ø¢Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙ‚Ùنَا عَذَابَ النَّارÙ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْÙÙØ³ÙŽÙ†ÙŽØ§ ÙˆÙŽØ¥Ùنْ لَمْ تَغْÙÙØ±Ù’ لَنَا وَتَرْØÙŽÙ…ْنَا Ù„ÙŽÙ†ÙŽÙƒÙوْنَنَّ Ù…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù’Ù„Ø®ÙŽØ§Ø³ÙØ±Ùيْنَ. Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽØ§Ù„له٠! Ø¥Ùنَّ اللهَ ÙŠÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±Ù Ø¨ÙØ§Ù’Ù„Ø¹ÙŽØ¯Ù’Ù„Ù ÙˆÙŽØ§Ù’Ù„Ø¥ÙØÙ’Ø³ÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽØ¥Ùيْتآء٠ذÙÙŠ Ø§Ù’Ù„Ù‚ÙØ±Ù’بىَ وَيَنْهَى عَن٠اْلÙÙŽØÙ’شآء٠وَاْلمÙنْكَر٠وَاْلبَغْي ÙŠÙŽØ¹ÙØ¸ÙÙƒÙمْ لَعَلَّكÙمْ تَذَكَّرÙوْنَ ÙˆÙŽØ§Ø°Ù’ÙƒÙØ±Ùوا اللهَ الْعَظÙيْمَ ÙŠÙŽØ°Ù’ÙƒÙØ±Ù’ÙƒÙمْ ÙˆÙŽØ§Ø´Ù’ÙƒÙØ±Ùوْه٠عَلَى Ù†ÙØ¹ÙŽÙ…ÙÙ‡Ù ÙŠÙŽØ²ÙØ¯Ù’ÙƒÙمْ وَلَذÙكْر٠الله٠أَكْبَر
Itulah naskah Khutbah Jumat dengan tema 4 cara hidup bahagia dalam Islam.***
(jurnal garut)
