Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Menanti Takdir Terindah dengan Memahami dan Iman

Menanti Takdir Terindah dengan Memahami dan Iman

admrozi
admrozi
calendar_today
schedule 3 min read

Jika kita ingin hati kita damai, tenang tanpa ada rasa cemas saat obsesi dan cita-cita yang diinginkan belum tercapai. Kita juga tentu ingin saat semua tercapai dan terpenuhi tidak ada rasa ujub dan merasa bangga diri, malah kita akan selalu bersyukur. 

Bagaimana kita sebagai seorang mukmin bersikap agar bisa menerima ketetapan dan takdir yang sudah digoreskan pena oleh Allah Ta'ala. Semoga kita semua mampu membuka hati kita bahwa takdir itu akan manis ketika kita memahaminya dengan iman.

Erat kaitannya dengan tauhid rububiyah yakni mengesakan Allah Ta’ala dalam semua perbuatan Allah Azza wajalla, mengatur dan memberi rezeki. Juga sangat berhubungan dengan tauhid asma dan sifat yang khusus hanya dimiliki-Nya. Karena mentakdirkan dan menetapkan masuk dalam cakupan sifat kesempurnaan-Nya.

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya ada pada yang ditakdirkan (al-maqdur, artinya takdir dari sisi manusia). Takdir jika dilihat dari sisi perbuatan Allah, semua takdir itu baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu”. Jadi takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan. Sedangkan Allah itu hanya berbuat baik saja selama-lamanya” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hlm 88).

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhuma berkata: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah plihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha terhadap semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hamba-Nya” (Siyar A’lamin Nubalaa’, 3/262).

Mukmin yang sempurna imannya akan menyadari di balik rencana Allah ada banyak kebaikan meskipun mungkin itu berat untukmu. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi jangan pernah resah dan gelisah dengan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala serta tak perlu iri dengan takdir yang telah ditetapkan untuk orang lain, karena kewajiban hamba adalah beriman pada semua ketentuan Allah Ta’ala dengan hati ikhlas dan yakin akan pertolongan Allah Ta’ala saat Allah Ta’ala menguji kita dengan perkara-perkara yang kurang kita sukai.

Manusia hendaknya berikhtiar menjadi mukmin terbaik dengan berdoa, agar dimudahkan menjalankan ketaatan, dijauhkan dari dosa, selalu berbaik sangka pada Allah Ta’ala dan menempuh jalan-jalan yang mengantarkan pada takdir yang baik.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wajalla telah menakdirkan berbagai macam ketentuan-ketentuan, Allah Azza wajalla menciptakan makhluk dengan takdir, membagi ajal mereka dengan takdir, membagi rezeki mereka dengan takdir, membagi ujian juga dengan takdir, membagi keselamatan juga dengan takdir, memerintah dan melarang (juga dengan takdir). Dan Al Iman Ahmad berkata: “Takdir adalah kekuasaan Allah” (Syifaa’ Al-Aliil, Ibnul Qayyim, 28).
Wallahu a’lam.

Sumber ( muslimah.or.id)