#rokmini : tentang perempuan dan rasa aman

Saya khawatir…dan merasa tidak aman

Saya ingat betul, Hari Kamis (15/9) sore setelah workshop, saya ijin pulang dulu, karena malamnya masih ada rapat lanjutan. Jakarta gelap bebarengan dengan orang-orang pulang jam kantor. Seperti biasa sambil ngantri masuk tol, buka twitter dan membaca link dari JakartaGlobe tentang seorang perempuan menangkap pemerkosanya. Deg! Saya buka terus link yang berkaitan, di timeline juga ada beberapa yang sedang membicarakannya- sampai pada berita bahwa ada seorang perempuan mengalami kekerasan seksual (diperkosa) di angkutan umum. Saya cuma bisa marah, seketika pikiran kosong. Khawatir…

Sampai di rumah, hujan deras sekali. Sementara saya masih ada kewajiban untuk mengikuti rapat jam 8 malam- terus terang kekhawatiran saya cukup tinggi mengingat kejadian tersebut dalam kurun waktu dekat ini ada beberapa kejadian- selain kasus mahasiswi yang juga diperkosa di angkot, ada perempuan di twitter yang mengalami pelecehan seksual secara verbal di taksi. Jadi malam itu saya rapat ditemani suami.

Anda bisa bayangkan! Saya mungkin masih beruntung bisa minta tolong suami untuk menemani saya (yang kebetulan) rapat di malam hari. Bagaimana dengan perempuan kepala keluarga, buruh perempuan shift malam, atau anda yang masih belum berkeluarga misalnya (sehingga bertanggung jawab atas diri sendiri) atau siapapun perempuan yang memiliki kewajiban bekerja atau beraktivitas di malam hari- menggunakan transportasi publik- dan tidak tahu bahwa ada kejadian-kejadian tersebut (karena tidak memiliki akses informasi yang cukup)? Dengan kerentanan yang sama seperti para korban dan survivor di atas?

Saya sepakat dengan Eva Sundari- bahwa kejadian ini adalah teror…

Besoknya, buka twitter lagi (yah, gimana ya.. informasi bergerak sangat cepat di twitter sih), timeline ramai atas pernyataan Foke (Gub DKI saat ini) yang pada intinya “ jangan pakai rok mini di angkot” – di antara pemberitaan-pemberitaan tentang salah satu pimpinan daerah di Aceh yang juga mengatakan hal yang kurang lebih sama- soal baju yang tidak memenuhi syariat- juga upaya polisi dan dinas perhubungan yang kabarnya menertibkan angkutan umum yang kaca filmnya melebihi aturan- dan lainnya.

Yang paling jadi perhatian sih soal pernyataan Foke. Soal perempuan pakai rok mini di angkot.

Karena saya yakin- persoalan perkosaan ini pasti digiring media atau beberapa orang yang berpengaruh pada logika-logika: ‘ baju si perempuannya yang salah- makanya diperkosa’, atau ‘lha sudah kenal kok- pantes, paling menikmati’ , ‘ makanya jadi perempuan harus hati-hati’, ‘perempuan suka salah kostum sih, di angkot pake rok mini’, ‘makanya auratnya ditutup, donk’  …

Pernyataan Foke sebagai pejabat publik, dianggap beberapa individu di twitter sebagai momen untuk kembali menyadarkan saya, anda dan kita semua tentang hak perempuan atas rasa aman sebagai warga negara dan terutama pemerintah agar tidak berlaku diskriminatif terhadap korban.

Kemudian- seorang teman menginformasikan bahwa Hari Minggu (18/9) ada #aksirokmini yang intinya adalah #aksitolakperkosaan.

Menuju ke Bundaran HI dari cibubur meskipun Minggu sore ternyata jalannya cukup tersendat, apalagi selepas hujan. Sampai di tempat aksi, bertemu teman-teman dengan pakaian segala rupa yang ingin menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah milik si perempuan, dan perempuan adalah warga negara yang memiliki hak yang sama untuk mengatur tubuh dan cara berpakaiannya dengan jaminan rasa aman.  Negara harus memastikan hal itu! Stop menyalahkan korban!.

Penasaran reaksi orang-orang di twitter tentang #aksirokmini ?

*muka miris*

puty

Menurut saya nggak semudah itu bilang “don’t tell women what to wear, tell men not to rape” di Indonesia. As for me,

kalau mau nunjukkin kita perempuan yg cerdas & berpikiran maju, bukan dengan bilang bahwa pakai rok mini adalah hak perempuan

tapi dengan menjadi adaptable. Like you can fit in the western style but you still know what environment you’re dealing with.

perempuan modern & cerdas mestinya tau kalau naik angkot itu isinya heterogen, dan gak semua bisa deal with our idea of freedom.

perempuan elegan beripikiran maju itu harusnya nggak buang waktu demo pake rok mini di jalan cuma buat nanggapin seorang .. Foke!

 

*cukup mencerahkan*

segalarupa Amir Sidharta

Kasus pemerkosaan terbanyak ada di mana sih? Terendah di mana? Apakah angkanya berhubungan dengan cara berpakaian, atau sikap masyarakatnya?
Kl anda masih mempermasalahkan soal pakaian, secara tdk langsung anda masih menanggap korbannya punya andil dlm tindak perkosaannya.
 #rokmini 7. Para perempuan diharapkan tetap berpakaian sesuai keinginan msg2: apa itu rok mini, jeans, berjilbab. Harus bebas!

 

Bisa bandingkan perspektifnya, mana yang berpihak pada korban dan tidak.

Tulisan di beberapa media online- juga beragam, mulai penekanan pada stop salahkan korban, keberpihakan pada korban dan beberapa tulisan yang masih berperspektif – bahwa korban turut andil pada terjadinya perkosaan-  bias.

Bias dimana?

Ini bukan cuma soal #rokmini foke minta maaf. Ini soal keamanan dan hak perempuan atas tubuhnya, dia berhak untuk mendapatkan rasa aman, sama seperti warga negara yang lain. Lebih jauh lagi, anda tidak berhak mengatur bagaimana perempuan berpakaian- dan kemudian melegalkan kekerasan terjadi karena perempuan. Dari reaksi-reaksi yang bikin miris tuh, sejatinya banyak orang menghakimi orang lain hanya dengan sehelai baju-sama kayak kalau pakai sorban dianggap suci, yang pakai rok mini dipastikan menggoda *sigh*

Soal #rokmini itu…

Oh,come on! #rokmini itu kan simbol sama seperti anda memilih kata kunci untuk kampanye CSR atau komersil anda. Semua suka mainan hashtag kan? Dan kata #aksirokmini ini adalah simbol untuk menjangkau isu yang lebih luas. Ini soal bagaimana negara memandang perempuan- bagaimana negara memperlakukan korban dan hak perempuan atas rasa aman. Kayak gak pernah kampanye aja.

Untuk @salingsilang

Sepemahaman saya saling-silang adalah salah satu yang memfasilitasi @lenteraID yang merupakan support group untuk survivor kekerasan seksual (termasuk di dalamnya pemerkosaan) dengan tulisan macam bias seperti itu, saya kecewa- ini seperti anda menyediakan tempat, mengumpulkan dan menusuk para survivor itu dari belakang- karena pesan yang ditangkap dalam tulisan itu adalah: makanya jadi perempuan hati-hati. *sedih*

Tentu saja secara prinsip jika kekerasan masih terjadi, baik yang dilakukan negara dalam sistem,  individu sebagai pemegang kebijakan atau anda sebagai masyarakat sebagai support system- persoalan-persoalan seperti gizi buruk, angka kematian ibu masih tetap muncul salah satunya (dan paling besar) akibat dari pola relasi perempuan dan laki-laki yang tidak setara, sama seperti pemahaman yang menyalahkan korban/ survivor supaya hati-hati.

Secara garis besar #aksirokmini layaknya kampanye, dia memilih satu simbol yang mudah diingat. Namun, pesannya adalah perempuan berhak memiliki rasa aman dan berhak atas tubuhnya (yang berarti dia bebas menggunakan apa saja dengan jaminan rasa aman), ples negara menjamin atas rasa aman tersebut dengan tidak membedakan jenis kelamin, tidak diskriminatif.

Kalau mau komentar (ge-er boleh donk), baca ini dulu ya, biar cerah! :D

Posted in Uncategorized | 1 Reply