<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayo Ke sini!</title>
	<atom:link href="http://ayokesini.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ayokesini.com</link>
	<description>Build readership, develop your community</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Oct 2011 16:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Ibu Guru Sari dan Belajar Sosiologi</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 18:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://ayokesini.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan kali ini akan bercerita tentang teman saya. Namanya Sari? Sari Oktafiana adalah nama lengkapnya. Teman kuliah saya tepatnya, anaknya serius. Ini serius, bahwa Sari adalah orang yang serius, terutama tentang pendidikan dan ilmu kesukaannya Sosiologi. Di jaman kuliah, dia adalah &#8230; <a href="http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<a href='http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/262969_2240968153144_1516270966_32433406_6457494_n/' title='262969_2240968153144_1516270966_32433406_6457494_n'><img width="150" height="150" src="http://ayokesini.com/wp/wp-content/uploads/2011/10/262969_2240968153144_1516270966_32433406_6457494_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="262969_2240968153144_1516270966_32433406_6457494_n" title="262969_2240968153144_1516270966_32433406_6457494_n" /></a>
<a href='http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/156285_1675027644985_1516270966_31647835_1105458_n/' title='156285_1675027644985_1516270966_31647835_1105458_n'><img width="150" height="150" src="http://ayokesini.com/wp/wp-content/uploads/2011/10/156285_1675027644985_1516270966_31647835_1105458_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="156285_1675027644985_1516270966_31647835_1105458_n" title="156285_1675027644985_1516270966_31647835_1105458_n" /></a>
<br />
Tulisan kali ini akan bercerita tentang teman saya. Namanya Sari? <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1516270966">Sari Oktafiana</a> adalah nama lengkapnya. Teman kuliah saya tepatnya, anaknya serius. Ini serius, bahwa Sari adalah orang yang serius, terutama tentang pendidikan dan ilmu kesukaannya Sosiologi. Di jaman kuliah, dia adalah seorang yang kritis, belakangan kalau pas bisa ketemu Sari ini mesti dititipin pesen,&#8221; Sar, nanti ngobrolnya ringan-ringan aja ya, jangan serius..&#8221; (hihihi, pis Sar! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Tulisan ini mungkin terlihat personal, karena Sari memang teman saya. Ngomong-ngomong dia berprofesi sebagai pendidik. Sempat menjadi pendidik di salah satu sekolah swasta di Surabaya, ngajar Sosiologi. Dulu, waktu blog ini masih hangat-hangatnya punya rencana sama Sari untuk mem-<em>publish</em> tulisan anak didiknya yang menjadi bagian tugas pelajaran. Sayangnya masih rencana <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  , maaf ya Sar.</p>
<p>Sebagai Guru Sosiologi yang memang menjadi <em>passionn</em>ya, saya suka lihat pas kebetulan buka facebook, si ibu guru sedang bercengkerama dengan muridnya tentang tugas sekolah dan apa sajalah. Menyenangkan bukan?. Kini, Sari menjadi pendidik di Yogya, kota tercinta. Dan karena kecintaannya akan Sosiologi dan dunia pendidikan, saya gak sengaja lihat di facebook (lagi), Ibu Guru Sari bikin <a href="http://www.facebook.com/groups/256551161051575/">kelompok Belajar Sosiologi</a>. Guru yang keren. Ngikutin tren <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lalu saya mengganggunya untuk ngobrol dikit sama si Ibu Kepala Sekolah yang baik hati ini, katanya sih dia ngakak baca pertanyaan yang kuajukan.</p>
<blockquote><p>Ibu Sari sehari-harinya ngapain aja sih?</p></blockquote>
<p>Aku seorang guru, dengan <em>background</em> Sosiologi dan sangat mencintai belajar Sosiologi sebagai ilmu yang telah membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda..setidaknya ilmu ini membuatku melihat dunia secara <em>&#8220;beyond my eyes&#8221;.</em> Selama 2 tahun menjadi asisten dosen di Ubaya dan 4 tahun menjadi guru sosiologi membuatku semakin mendalami sosiologi. Teori dan buku-buku sosiologi selalu diatas meja kerja dan hidup dalam kalbuku&#8230;</p>
<blockquote><p> Tentang kecintaannya pada murid dan Sosiologi</p></blockquote>
<p>Bayangkan saja dulu setiap hari di Ciputra mengajar sosiologi kepada 50 murid. Dan meneriakkan arti pentingnya belajar sosiologi untuk mengupas dan menganalis setiap fenomena dalam masyarakat.</p>
<p>Setiap mengajar dan membuat anak-anak paham adalah sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang tak ternilai. Selalu membaca paper dan tugas dari murid akhirnya membuat sosiologi semakin jauh merasuk dalam hidupku.</p>
<blockquote><p> Bikin Belajar Sosiologi karena?</p></blockquote>
<p>Sekarang setelah berpisah dengan murid2ku di Ciputra (kamu harus membaca tulisanku dan <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/16/dan-aku-pun-sayang%E2%80%A6/">akupun sayang&#8230;untuk memahaminya</a>) aku memiliki beban moral dan tanggung jawab untuk terus mengajar murid-muridku yang di ciputra. Kami setiap hari bbm bahkan skype (<em>teleconference</em>) aku mengajar mereka. akhirnya karena aq harus menyiapkan materi ajar aku menggunakan FB untuk membikin kelompok belajar sehingga <em>I can teach my students wherever I am.</em></p>
<p>Aku meyakini mahluk buatan Mark Zuckenberg diakses oleh banyak orang termasuk semua murid-muridku. karena aku sering posting hal-hal yang semua berkaitan sosiologi banyak orang yang akhirnya bergabung dan tentunya membuatku terus belajar sosiologi.</p>
<blockquote><p> Singkat ya ngobrolnya?</p></blockquote>
<p>Iya soalnya yang tanya bingung juga, saking terpananya sama kecintaan si Ibu Guru Sari kepada muridnya juga dengan Sosiologi ini. Sukak! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Semoga Ibu Guru Sari selalu punya energi untuk belajar sosiologi bersama siapa saja dengan media apa saja. Demi menumbuhkan perspektif kritis terhadap apa yang ada di sekitar, bukan begitu bu? <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ehm, kalau mau tahu lebih banyak tentang Sosiologi bisa lho berbincang dengan Ibu Sari <a href="http://www.facebook.com/groups/256551161051575/">di sini. <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Foto-foto dari koleksi Sari.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/10/08/ibu-guru-sari-dan-belajar-sosiologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#rokmini : tentang perempuan dan rasa aman</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=perempuan-dan-rasa-aman</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 09:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://ayokesini.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Saya khawatir…dan merasa tidak aman Saya ingat betul, Hari Kamis (15/9) sore setelah workshop, saya ijin pulang dulu, karena malamnya masih ada rapat lanjutan. Jakarta gelap bebarengan dengan orang-orang pulang jam kantor. Seperti biasa sambil ngantri masuk tol, buka twitter &#8230; <a href="http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Saya khawatir…dan merasa tidak aman</p></blockquote>

<a href='http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/img_0534/' title='IMG_0534'><img src="http://ayokesini.com/wp/wp-content/uploads/2011/09/IMG_0534.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0534" title="IMG_0534" /></a>
<a href='http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/img_0536/' title='IMG_0536'><img src="http://ayokesini.com/wp/wp-content/uploads/2011/09/IMG_0536.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0536" title="IMG_0536" /></a>
<a href='http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/img_0569/' title='IMG_0569'><img src="http://ayokesini.com/wp/wp-content/uploads/2011/09/IMG_0569.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0569" title="IMG_0569" /></a>

<p>Saya ingat betul, Hari Kamis (15/9) sore setelah workshop, saya ijin pulang dulu, karena malamnya masih ada rapat lanjutan. Jakarta gelap bebarengan dengan orang-orang pulang jam kantor. Seperti biasa sambil ngantri masuk tol, buka twitter dan membaca link dari <a href="http://www.thejakartaglobe.com/home/woman-catches-her-rapist-in-a-jakarta-traffic-jam/465565">JakartaGlobe </a>tentang seorang perempuan menangkap pemerkosanya. Deg! Saya buka terus link yang berkaitan, di timeline juga ada beberapa yang sedang membicarakannya- sampai pada berita bahwa ada seorang perempuan mengalami kekerasan seksual (diperkosa) di angkutan umum. Saya cuma bisa marah, seketika pikiran kosong. Khawatir&#8230;</p>
<p>Sampai di rumah, hujan deras sekali. Sementara saya masih ada kewajiban untuk mengikuti rapat jam 8 malam- terus terang kekhawatiran saya cukup tinggi mengingat kejadian tersebut dalam kurun waktu dekat ini ada beberapa kejadian- selain <a href="http://metro.vivanews.com/news/read/242754-binus-siapkan-perlengkapan-wisuda-livia">kasus mahasiswi yang juga diperkosa di angkot</a>, ada perempuan di twitter yang mengalami <a href="http://benarnggak.wordpress.com/2011/08/23/pelecehan-seksual-oleh-pengemudi-taksi-blue-bird/">pelecehan seksual secara verbal di taksi</a>. Jadi malam itu saya rapat ditemani suami.</p>
<p>Anda bisa bayangkan! Saya mungkin masih beruntung bisa minta tolong suami untuk menemani saya (yang kebetulan) rapat di malam hari. Bagaimana dengan perempuan kepala keluarga, buruh perempuan shift malam, atau anda yang masih belum berkeluarga misalnya (sehingga bertanggung jawab atas diri sendiri) atau siapapun perempuan yang memiliki kewajiban bekerja atau beraktivitas di malam hari- menggunakan transportasi publik- dan tidak tahu bahwa ada kejadian-kejadian tersebut (karena tidak memiliki akses informasi yang cukup)? Dengan kerentanan yang sama seperti para korban dan survivor di atas?</p>
<blockquote><p>Saya sepakat dengan Eva Sundari- bahwa kejadian ini adalah<a href="http://www.detiknews.com/read/2011/09/15/172351/1723437/10/eva-sundari-pemerkosaan-di-angkot-teror-baru-masyarakat"> teror…</a></p></blockquote>
<p>Besoknya, buka twitter lagi (yah, gimana ya.. informasi bergerak sangat cepat di twitter sih), timeline ramai atas pernyataan Foke (Gub DKI saat ini) yang pada intinya “ <a href="http://www.thejakartaglobe.com/home/women-should-not-wear-miniskirts-on-angkot-jakarta-governor/465821">jangan pakai rok mini di angkot”</a> – di antara pemberitaan-pemberitaan tentang salah satu pimpinan daerah di Aceh yang juga mengatakan hal yang kurang lebih sama- soal baju yang tidak memenuhi syariat- juga upaya polisi dan dinas perhubungan yang kabarnya menertibkan angkutan umum yang kaca filmnya melebihi aturan- dan lainnya.</p>
<blockquote><p>Yang paling jadi perhatian sih soal pernyataan Foke. Soal perempuan pakai rok mini di angkot.</p></blockquote>
<p>Karena saya yakin- persoalan perkosaan ini pasti digiring media atau beberapa orang yang berpengaruh pada logika-logika: ‘ baju si perempuannya yang salah- makanya diperkosa’, atau ‘lha sudah kenal kok- pantes, paling menikmati’ , ‘ makanya jadi perempuan harus hati-hati’, ‘perempuan suka salah kostum sih, di angkot pake rok mini’, ‘makanya auratnya ditutup, donk’  …</p>
<p>Pernyataan Foke sebagai pejabat publik, dianggap<a href="twitter.com/tunggalp"> beberapa</a> <a href="http://twitter.com/#!/purplerebel">individu </a><a href="http://twitter.com/#!/chickciets">di twitter</a> sebagai momen untuk kembali menyadarkan saya, anda dan kita semua tentang hak perempuan atas rasa aman sebagai warga negara dan terutama pemerintah agar tidak berlaku diskriminatif terhadap korban.</p>
<blockquote><p>Kemudian- seorang teman menginformasikan bahwa Hari Minggu (18/9) ada #aksirokmini yang intinya adalah <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2011/09/18/women-protest-fauzi%E2%80%99s-rape-advice.html">#aksitolakperkosaan.</a></p></blockquote>
<p>Menuju ke Bundaran HI dari cibubur meskipun Minggu sore ternyata jalannya cukup tersendat, apalagi selepas hujan. Sampai di tempat aksi, bertemu teman-teman dengan pakaian segala rupa yang ingin menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah milik si perempuan, dan perempuan adalah warga negara yang memiliki hak yang sama untuk mengatur tubuh dan cara berpakaiannya dengan jaminan rasa aman.  Negara harus memastikan hal itu! Stop menyalahkan korban!.</p>
<blockquote><p>Penasaran reaksi orang-orang di twitter tentang #aksirokmini ?</p></blockquote>
<p>*muka miris*</p>
<blockquote><p><a title="puti karina puar" href="http://twitter.com/#!/puty">puty</a></p>
<p><em><a href="http://told.byputy.com/2011/09/18/reaksi-rok-mini/">Menurut saya nggak semudah itu bilang &#8220;don&#8217;t tell women what to wear, tell men not to rape&#8221; di Indonesia. As for me</a>,</em></p>
<p><em>kalau mau nunjukkin kita perempuan yg cerdas &amp; berpikiran maju, bukan dengan bilang bahwa pakai rok mini adalah hak perempuan</em></p>
<p><em>tapi dengan menjadi adaptable. Like you can fit in the western style but you still know what environment you&#8217;re dealing with.</em></p>
<p><em>perempuan modern &amp; cerdas mestinya tau kalau naik angkot itu isinya heterogen, dan gak semua bisa deal with our idea of freedom.</em></p>
<p><em>perempuan elegan beripikiran maju itu harusnya nggak buang waktu demo pake rok mini di jalan cuma buat nanggapin seorang .. Foke!</em></p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p>*cukup mencerahkan*</p>
<p><a title="Amir Sidharta" href="http://twitter.com/#!/segalarupa">segalarupa</a> Amir Sidharta</p>
<blockquote>
<div>Kasus pemerkosaan terbanyak ada di mana sih? Terendah di mana? Apakah angkanya berhubungan dengan cara berpakaian, atau sikap masyarakatnya?</div>
</blockquote>
<div>
<blockquote>
<div>Kl anda masih mempermasalahkan soal pakaian, secara tdk langsung anda masih menanggap korbannya punya andil dlm tindak perkosaannya.</div>
<div> <a title="#rokmini" href="http://twitter.com/#!/search?q=%23rokmini" rel="nofollow"><s>#</s><strong>rokmini</strong></a> 7. Para perempuan diharapkan tetap berpakaian sesuai keinginan msg2: apa itu rok mini, jeans, berjilbab. Harus bebas!</div>
</blockquote>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bisa bandingkan perspektifnya, mana yang berpihak pada korban dan tidak.</p>
<p>Tulisan di beberapa media online- juga beragam, mulai penekanan pada <a href="http://www.thejakartaglobe.com/news/stop-blaming-rape-victims-for-what-they-are-wearing/466202">stop salahkan korban</a>, <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/09/17/brk,20110917-356764,id.html">keberpihakan pada korban</a> dan beberapa tulisan yang masih berperspektif &#8211; <a href="http://salingsilang.com/baca/demo-rok-mini">bahwa korban turut andil pada terjadinya perkosaan-</a>  bias.</p>
<blockquote><p>Bias dimana?</p></blockquote>
<p>Ini bukan cuma soal #rokmini foke minta maaf. Ini soal keamanan dan hak perempuan atas tubuhnya, dia berhak untuk mendapatkan rasa aman, sama seperti warga negara yang lain. Lebih jauh lagi, anda tidak berhak mengatur bagaimana perempuan berpakaian- dan kemudian melegalkan kekerasan terjadi karena perempuan. Dari reaksi-reaksi yang bikin miris tuh, sejatinya banyak orang menghakimi orang lain hanya dengan sehelai baju-sama kayak kalau pakai sorban dianggap suci, yang pakai rok mini dipastikan menggoda *sigh*</p>
<blockquote><p>Soal #rokmini itu&#8230;</p></blockquote>
<p>Oh,come on! #rokmini itu kan simbol sama seperti anda memilih kata kunci untuk kampanye CSR atau komersil anda. Semua suka mainan hashtag kan? Dan kata #aksirokmini ini adalah simbol untuk menjangkau isu yang lebih luas. Ini soal bagaimana negara memandang perempuan- bagaimana negara memperlakukan korban dan hak perempuan atas rasa aman. Kayak gak pernah kampanye aja.</p>
<blockquote><p>Untuk <a href="http://twitter.com/#!/salingsilang">@salingsilang</a></p></blockquote>
<p>Sepemahaman saya saling-silang adalah salah satu yang memfasilitasi <a href="http://twitter.com/#!/lenteraid">@lenteraID </a>yang merupakan <em>support group</em> untuk <em>survivor</em> kekerasan seksual (termasuk di dalamnya pemerkosaan) dengan tulisan macam bias seperti itu, saya kecewa- ini seperti anda menyediakan tempat, mengumpulkan dan menusuk para <em>survivor</em> itu dari belakang- karena pesan yang ditangkap dalam tulisan itu adalah: makanya jadi perempuan hati-hati. *sedih*</p>
<p>Tentu saja secara prinsip jika kekerasan masih terjadi, baik yang dilakukan negara dalam sistem,  individu sebagai pemegang kebijakan atau anda sebagai masyarakat sebagai <em>support system</em>- persoalan-persoalan seperti gizi buruk, angka kematian ibu masih tetap muncul salah satunya (dan paling besar) akibat dari pola relasi perempuan dan laki-laki yang tidak setara, sama seperti pemahaman yang menyalahkan korban/ <em>survivo</em>r supaya hati-hati.</p>
<p>Secara garis besar #aksirokmini layaknya kampanye, dia memilih satu simbol yang mudah diingat. Namun, pesannya adalah perempuan berhak memiliki rasa aman dan berhak atas tubuhnya (yang berarti dia bebas menggunakan apa saja dengan jaminan rasa aman), ples negara menjamin atas rasa aman tersebut dengan tidak membedakan jenis kelamin, tidak diskriminatif.</p>
<p>Kalau mau komentar (ge-er boleh donk), baca ini dulu ya, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/SlutWalk">biar cerah</a>! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/09/19/perempuan-dan-rasa-aman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita ToP</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/09/10/cerita-top/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cerita-top</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/09/10/cerita-top/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 16:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayokesini.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[“ Jadi fasilitator tuh paling beratnya adalah pas masuk ruangan dan menghilangkan segala bentuk stereotipe pada pesertanya” , begitu celetuk seorang teman waktu ngobrol soal tips dan trik jadi fasilitator. Saya akan mengawali dengan sedikit romansa masa lalu, medio 2000 &#8230; <a href="http://ayokesini.com/2011/09/10/cerita-top/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.ica-southafrica.org/images/orid.gif" alt="" width="200" height="121" />“ Jadi fasilitator tuh paling beratnya adalah pas masuk ruangan dan menghilangkan segala bentuk stereotipe pada pesertanya” , begitu celetuk seorang teman waktu ngobrol soal tips dan trik jadi fasilitator.</p>
<p>Saya akan mengawali dengan sedikit romansa masa lalu, medio 2000 saya pernah ikut training buat menjadi fasilitator dan bagaimana fasilitasi yang baik itu. Isi pelatihannya? pengetahuan tentang prinsip fasilitasi- model pendidikan orang dewasa, persiapan yang dibutuhkan kalau mau fasilitasi itu apa saja, bagaimana menggali informasi dari peserta dengan cara partisipatif dan tidak membosakan, dan lainnya.</p>
<p>Kenapa dulu ikut training fasilitator? karena dibayarin *#hobigratisan* sama program pendidikan lingkungan perkotaan-nya Dian Desa, dan waktu itu training dasar tersebut bakalan digunakan untuk pekerjaan sebagai fasilitator anak muda-anak muda di jogja untuk lebih mengenal kotanya, mencintainya dan menjaganya, selanjutnya diharapkan akan menginformasikan pada teman-temannya untuk sama-sama mengenal dan mencintai kotanya. Kira-kira begitulah ceritanya di tahun 2000. Lama ya?</p>
<p>Waktu berlalu, terus dapat kesempatan lagi *joged* di Bulan Juli yang lalu ikutan training ToP <em>(training of participatory)</em>, yang intinya adalah menyegarkan dan mengingatkan kembali untuk menjaga ‘khitah’ dari fasilitasi (mendesain pelatihan yang partisipatif)  dan bagaimana menjadi fasilitator yang ‘baik’.</p>
<blockquote><p>“Lho emang sulit ya jadi fasilitator?”</p></blockquote>
<p>Ya, kalau mau yang oke dengan prinsip partisipatif (di training ini juga dijelaskan beda fasilitator dan narasumber) ya mesti belajar dari pengalaman, gak sulit, cuma mesti sering praktek aja. Misalnya nih ya, dimulai dari persiapan pelatihan itu sendiri. Apa aja sih yang mesti dipersiapkan? Yang umum sih spidol besar baik yang khusus fasilitator maupun peserta. Spidol mesti berujung besar supaya menghasilkan tulisan yang jelas. Kertas warna-warni alias metaplan, kertas plano, belum lagi kalau ada permainan bisa perlu bola, sedotan dan pernak-pernik lainnya.</p>
<p>Setelah printilan siap, yang lebih penting lagi adalah mempersiapkan alur-menghitung alur sehingga tercapai output. Kalau fasilitasi-nya berdua, mesti koordinasi dan bagi peran juga sama partner, siapa ngomong apa dan siapa lihat apa. Siapa lihat apa? Iya lihat siapa yang bertanggungjawab memperhatikan peserta yang suka ngantuk, yang ngeyel, yang keminter, yang penurut, yang tidak berani bersuara, yang mendominasi dan yang yang lainnya, intinya supaya semua peserta merasa nyaman dan semua bisa berpartisipasi.</p>
<p>Oiya, setting ruangan tuh juga penting lho. Mau roundtable apa mau u-shape atau melingkar atau bergelombang #eh. Ini demi kenyamanan dan kedekatan dalam proses fasilitasi, kalau nyaman dan dekat biasanya semua info bisa ditransfer dengan baik bolak-balik (maksudnya antar fasilitator dan peserta juga sebaliknya).</p>
<blockquote><p>“Udah gitu doang?”</p></blockquote>
<p>Belummm, soal alur tadi metode yang kemaren waktu pelatihan saya dapatkan adalah ORID ( <em>Objective, Reflective, Interpretatif dan Decisional</em>). Proses fasilitasi harus diawali dengan kondisi yang ada, fakta, realita , kemudian menggali reaksi dari fakta tersebut terhadap peserta yang selanjutnya analisa atau menggali persoalan dan apa yang harus dilakukan. Dalam proses ini diberikan contoh dalam pelaksanaan ORID. Setiap tahapnya bisa menggunakan alat dan cara yang berbeda. Cara visual adalah cara yang manjur (dari pengalaman selama ini) untuk menggugah empati peserta- apalagi di isu tertentu macam isu gender.</p>
<p>Uhhm, udah kepanjangan nih tulisannya. Soal ORID-nya ada beberapa pengalaman yang saya dapat sih, tapi cerita di lain judul aja ya, khawatir pada bosen *ahlesyan*.</p>
<p><strong>Tips Bang Juni Tamrin (fasilitator training-nya):</strong></p>
<ul>
<li>Fasilitator harus lihai dalam merumuskan pertanyaan dan pernyataan. Mengetahui isu dasar saat fasilitasi itu penting, tapi tidak kemudian mengharuskan ahli dalam isu tersbut</li>
<li>Tambahan permainan-permaian dalam proses fasilitasi memberikan kata kunci dalam pelaksanaan fasilitasi adalah persiapan, kerjasama, komunikasi.</li>
</ul>
<p>Apakah anda punya tips jadi fasilitator yang keren? Boleh lho berbagi di sini <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>gambar<a href="http://www.ica-southafrica.org/images/orid.gif"> pinjem </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/09/10/cerita-top/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Kartini: Memperkuat Gerakan Perempuan Kini</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/04/17/membaca-kartini-memperkuat-gerakan-perempuan-kini/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=membaca-kartini-memperkuat-gerakan-perempuan-kini</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/04/17/membaca-kartini-memperkuat-gerakan-perempuan-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 09:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[MDGs]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><img style="float: left;" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/aT7JlhzRyRo2oXzW6dKqftGgccF7BoGCU0ti0z35tYHF43itwRQy2VqD77Xf/IMG_8638.jpg" alt="" width="210" height="200" /></p><p>Kartini –Korespondensi dan Informasi, sejarah mengatakan bahwa Kartini setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dipingit dan belajar dari rumah. Salah satu cara yang dipilih Kartini adalah surat-menyurat. Surat dipilih Kartini sebagai salah satu alat untuk berbagi dan mencari informasi, sehingga pada masanya Kartini telah bertukar informasi tentang pendidikan yang (tidak) untuk semua kalangan, kemiskinan, dan pergerakan anak muda, pada karibnya, Abendanon.</p> <a href="http://ayokesini.com/2011/04/17/membaca-kartini-memperkuat-gerakan-perempuan-kini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/aT7JlhzRyRo2oXzW6dKqftGgccF7BoGCU0ti0z35tYHF43itwRQy2VqD77Xf/IMG_8638.jpg" alt="" width="210" height="200" /></p>
<p>Kartini –Korespondensi dan Informasi, sejarah mengatakan bahwa Kartini setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dipingit dan belajar dari rumah. Salah satu cara yang dipilih Kartini adalah surat-menyurat. Surat dipilih Kartini sebagai salah satu alat untuk berbagi dan mencari informasi, sehingga pada masanya Kartini telah bertukar informasi tentang pendidikan yang (tidak) untuk semua kalangan, kemiskinan, dan pergerakan anak muda, pada karibnya, Abendanon.</p>
<p>Kini, berbagi informasi memiliki cara dan bentuk yang makin mudah, mulai dari telepon selular, mailing-list, blog, podcast, sms, kamera digital dan lainnya. Tentu saja ini memudahkan perempuan untuk mengaksesnya. Dalam ruang lingkup tekhnologi informasi, keberadaan internet dan telepon selular menjadi salah satu yang diperhatikan fungsinya. Labibah Zain salah satu pendiri Blogfam pernah menuliskan sebuah artikel ‘Potret Pergaulan Era Global’ di Kompas tahun 2005 mengenai blog menegaskan bahwa, “…Pola pergaulan perempuan di era global ini tidak berubah, hanya saja mengalami transformasi budaya dengan adanya weblog yang terhubung lewat koneksi internet.Dengan melihat keefektifan media weblog ini mungkin sudah saatnya para aktivis jender di Indonesia memanfaatkannya sebagai media alternatif pemberdayaan perempuan di Indonesia…”</p>
<p>Faktanya dari berkembangnya tekhnolog informasi dan telekomunikasi, akses perempuan terhadap informasi menjadi lebih mudah. Dengan satu kali klik, lalu lintas informasi apapun ada di depan mata, itulah salah satu alasan Nurlina Purbo membuka ruang untuk ibu rumah tangga belajar komputer dan ber-internet. Efek dari terbukanya akses informasi, perempuan menjadi punya banyak pilihan, termasuk memilih profesinya. Saya kagum dengan ibu-ibu yang berjaringan (melalui internet) dan kemudian berbisnis kue, tengoklah salah satunya Klub Berani Baking atau NCC. Dapur dan kue yang tadinya lekat dengan ranah domestik, kini semua bisa melongoknya-menjadi bagian dari ranah publik.</p>
<p>Cerita lain, seorang ibu di Bantul yang membuat tas dari bahan perca dan gabus pun menggunakan facebook untuk promosi tasnya. Meskipun facebook yang digunakan adalah milik anaknya yang suka ke warnet. Bahkan, para pegiat isu perempuan pun sudah menggunakan  mailing-list sebagai salah satu cara untuk mengadvokasi isu secara bersama. ‘Demam’ twitter pun mulai dilirik beberapa pegiat isu perempuan seperti Musdah Mulia, Eva Sundari, Neng Dara sampai Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan  pun memiliki akun twitter, tentu saja tujuannya adalah berbagi informasi. Di twitter dan facebook pula bisa kita lihat kampanye isu perempuan mulai dari gerakan peduli buruh migran, donasi untuk women crisis center sampai soal ASI dan angka kematian ibu.</p>
<p>Mobilitas informasi yang menyampaikan isu-isu perempuan melalui tekhnologi informasi sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi gerakan perempuan. Ketika berbicara spesifikasi, alat/media yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan perempuan. Karena kebutuhan perempuan pun spesifik. Misalnya tidak bisa menggunakan komputer atau laptop untuk petani perempuan di pedalaman Poso yang listriknya terbatas, pilihannya mungkin bisa menggunakan telepon selular dengan internet mobile yang terjangkau dan pengetahuan cara penggunaannya yang efektif. Sasaran kelompok perempuan mana yang akan dikuatkan (diberdayakan) juga harus diperhatikan dalam upaya akselerasi tersebut. Apakah pekerja rumah tangga? Buruh perempuan? Perempuan pemilik UMKM? Atau Buruh migran perempuan? Karakter penggunaan dan kebutuhannya akan berbeda.</p>
<p>Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi ketika berbicara tentang perempuan dan tekhnologi informasi&amp;telekomunikasi. Selain contoh diatas tentang akses informasi, upaya penyadaran dan penguatan ekonomi perempuan, masih banyak persoalan yang belum tersentuh dan membutuhkan tekhnologi informasi seperti rujukan untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, informasi harga bagi petani perempuan sampai pelatihan kepada NGO perempuan yang belum melek IT sebagai dukungan untuk gerakannya. Banyak bukan? Mari memilih peran apa yang akan kita lakukan untuk pemberdayaan perempuan yang lebih kuat dan efektif. Saya memulainya dengan menuliskan ini. ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/04/17/membaca-kartini-memperkuat-gerakan-perempuan-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang 2010 (3) : Kesukaan</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/04/11/tentang-2010-3-kesukaan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-2010-3-kesukaan</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/04/11/tentang-2010-3-kesukaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 00:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kain]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160;</p><p><img style="float: left;" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/S7JDSSLdlb6sviDQjtUt64fEWC8kZmCngVrLyR0yXBQAA4nl27zpxRx43uNE/2011-01-05_00.05.37.jpg.scaled.1000.jpg" alt="" width="220" height="200" />Postingan sebelumnya soal apa yang saya kerjakan. Selanjutnya saya akan nulis soal apa yang yang saya sukai ketika berkesempatan ke daerah, tentu saja (jika ada waktu) saya akan ke pasar. Beli oleh-oleh? ehm,jarang biasanya motretin aktivitas yang ada di pasar. Ada beberapa barang yang saya kumpulkan ketika mengunjugi suatu tempat adalah kain,kopi dan makanan.</p> <a href="http://ayokesini.com/2011/04/11/tentang-2010-3-kesukaan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/S7JDSSLdlb6sviDQjtUt64fEWC8kZmCngVrLyR0yXBQAA4nl27zpxRx43uNE/2011-01-05_00.05.37.jpg.scaled.1000.jpg" alt="" width="220" height="200" />Postingan sebelumnya soal apa yang saya kerjakan. Selanjutnya saya akan nulis soal apa yang yang saya sukai ketika berkesempatan ke daerah, tentu saja (jika ada waktu) saya akan ke pasar. Beli oleh-oleh? ehm,jarang biasanya motretin aktivitas yang ada di pasar. Ada beberapa barang yang saya kumpulkan ketika mengunjugi suatu tempat adalah kain,kopi dan makanan.</p>
<p><!--break-->
<p>Kain, ya saya pengumpul kain. Tidak sebanyak yang lain, tapi saya sempatkan jika ada kain khas/ tradisional di daerah tersebut dan ada perajinnya, saya mesti pengen <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  #pengenan. Kain-kain ini tentu saja menambah sedikit wawasan, kalau batik itu gak cuma motif parang kusumo aja <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Saya lebih suka kain batik katun, kalau yang sutra klunyur-klunyur gitu selain mahal, juga bikin geli di kulit berbulu ini, hihihi.&nbsp;</p>
<p>Walhasil, saya punya beberapa koleksi kain dari NTT (tentu ini yang paling banyak), Ambon, sarung Makassar, Kain Kerawang Gorontalo, Batik Palangkaraya dengan motif batang garing. Songket dari Medan, Batik Papua, Sasirangan Kalsel, Sarung Samarinda yang saya beli di Banda Aceh, hahaha. Menarik kan kain-kain ini?&nbsp;</p>
<p>Lalu, kopi.Saya bukan peminum kopi hitam tapi suka beli kopi hitam untuk dibagikan ke teman-teman yang hobi nongkrong di starbak <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Kenapa? sebagai penyeimbang yang lokal dan internasional donk.Beberapa kopi yang didapat beberapa waktu lalu (sayang gak ada fotonya, tepatnya keburu dibagi lupa difoto), adalah kopi jambi, kopi aceh dan ulee kareng, kopi prima-wamena, kopi jahe gorontalo (agak mirip dengan kopi dari Palu), kopi toraja. Satupun gak saya coba, tapi dapat kabar dari beberapa teman, kopi yang wamena itu nikmat ada rasa moka-mokanya gitu katanyah.&nbsp;</p>
<p>Makanan, saya selalu mencari makanan khas. Entah kenapa makanan yang didapat dari penjual makanan kecil/warung selalu menyisakan cerita yang gak bakal didapet kalau makan di resto.Bisa dapet diskon sampai dikasi porsi yang gede. Atau tahu duluan kalau Kek Pisang Vila di Batam itu enak dan ternyata dia menang wirausaha apa gitu. Atau klapppertart dari Manado yang rasanya tiada duanya, tapi aku lupa nama tokonya. Di Gorontalo, kabarnya tidak ada buah tangan khas lokal, kemudian muncul pia kering adaptasi dari makanan khas Cina yang kemudian juga nge-hits. Kalau Medan, semua orang pasti tahu bika dan bolu meranti,juga ada sarikaya yang enak untuk teman roti.&nbsp;</p>
<p>Lain hari di Grobogan, saya nemu sirup lokal Kartika yang cukup hits disana, dan tentu saja puas-puasin makan garang asem, tapi gak nyobain swike sih.Sirup Kartika ini, saya lihat di warung indomi deket alun-alun Grobogan, herannya tak seorangpun dari kolega lokal yang bilang bawa ada sirup buatan lokal ini.Lainnya, karena negara ini kabarnya negara bahari (kaya sumber daya alamnya, tapi infrastrukturnya gak mendukung), maka ikan segar akan berserakan dimana-mana sepanjang Sulawesi sampai Papua, dan ikan tawar di Kalimantan Tengah, khusus dari Palangkaraya saya bawa udang ukurang besar 6 buah dengan harga 95ribu saja, makan sampai puas!.</p>
<p>Dari tiga bagian tulisan cerita di 2010 ini, saya bersyukur sekali diberi kesempatan untuk mengenal daerah-daerah ini. Cukup meyakinkan saya bahwa negara ini, masyarakatnya pekerja keras dan memiliki rasa sabaaarrr yang panjang, bahkan untuk menikmati listrik sekalipun.Jadi 2011 kira-kira gimana ceritanya? saya yakin akan lebih berwarna, buktinya saya mau nulis blog lagi nih <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/04/11/tentang-2010-3-kesukaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang 2010 (2): Pembelajaran</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/04/04/tentang-2010-2-pembelajaran/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-2010-2-pembelajaran</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/04/04/tentang-2010-2-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 12:39:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[gender budget]]></category>
		<category><![CDATA[pendampingan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160;</p><p><img style="float: left;" src="http://www.unpac.ca/gender/images/workshop_290px.gif" alt="" width="220" height="200" />Bertemu dengan elemen masyarakat dan pemerintah daerah, baik di provinsi maupun kabupaten/kota yang saya kunjungi, menghasilkan beberapa pertanyaan dan evaluasi kerja bagi saya sendiri, dan bisa jadi untuk anda yang kebetulan mengadvokasi hal yang sama.</p> <a href="http://ayokesini.com/2011/04/04/tentang-2010-2-pembelajaran/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.unpac.ca/gender/images/workshop_290px.gif" alt="" width="220" height="200" />Bertemu dengan elemen masyarakat dan pemerintah daerah, baik di provinsi maupun kabupaten/kota yang saya kunjungi, menghasilkan beberapa pertanyaan dan evaluasi kerja bagi saya sendiri, dan bisa jadi untuk anda yang kebetulan mengadvokasi hal yang sama.</p>
<p>Kalian pasti tahu semua, kalau Indonesia itu kaya, sayangnya kita tidak pandai mengelolanya. entah itu terhalang birokrasi, terbiasa korupsi atau pembangunan untuk kelompok tertentu. Developmentalis ya? mungkin. Dari beberapa pengalaman pendampingan, inisiatif masyarakat sipil itu banyak tapi tidak diimbangi dengan kerja birokrasi yang efisien.</p>
<p>Misalnya saya temui di provinsi A (asal ya, kalau mau tahu mending japri), seorang perencana di Dinas Pasar, benci betul dengan para pedagang pasar yang bikin macet jalan protokol. Padahal setiap hari, retribusi dari pedagang dijalankan. Katanya pedagang pasar tidak memenuhi peraturan daerah. Jadi kira-kira dimana ekor kerumitan ini? yak, tepat di saat peraturan dibuat tanpa memperhatikan kebutuhan dan persoalan pedagang pasar.Dari pedagang pasar itu, banyak lakinya atau perempuannya? apa yang mereka butuhkan?</p>
<p>Di provinsi lain, saya pernah kena semprot salah satu pejabat daerah, karena dalam akhir workshop saya menyarankan mereka untuk membuat rencana tindak lanjut yang sesuai dengan kapasitas dan anggaran mereka (tentunya dengan dampingan saya). Ditolak,alasannya tidak pernah membuat rencana tindak lanjut dan tidak bisa mengoperasikan laptop. Ada juga yang mengklaim bahwa perencanaan pembangunannya sudah responsif gender, tapi saya tahu betul daerah itu angka kematian ibunya tinggi, pelayanan publik kurang berjalan baik. Dalam benak mereka hanya jika ada PKK,P2WKSS dan kegiatan pemberdayaan perempuan berarti sudah responsif gender,padahal tidak. Tidak punya data atau informasi untuk perencanaan sektor? jangan khawatir, dijamin banyak!. Suka heran, mereka baca kompas, tempo atau online gak sih? online sih tapi fesbukan. Lha gitu kok bilang gak punya informasi? lucu kan.</p>
<p>Yang tadi itu memang dinamika pendampingan bertemu dengan birokrat daerah,kadang sedih juga kok yang kayak &#8216;gitu&#8217; diterima jadi pelayan masyarakat ya? kadang merasa bersalah juga, jangan-jangan emang yang pinter cuma di daerah kota-kota besar saja. *sigh*. Cerita menyenangkannya beberapa juga ada, ketika dipertemukan dengan anak muda lulusan Bandung yang balik jadi pegawai di kotanya. Dia mengeluh? pasti, karena kelambanan proses pembangunan, tapi orang-orang muda ini semangatnya tinggi sekali. Tahu betul persoalan, didampingi tiga hari, dokumennya sudah lengkap!kalau ketemu yang kayak gini rasanya pengen nangis aja saking senengnya.</p>
<p>Itu baru ketemu satu elemen pemerintah saja, jika dipertemukan dengan elemen masyarakat sipil dan akademisi satu meja.Tentu saya akan lebih galak.Karena, kadang pemdanya sudah terbuka mau didampingi, masyarakat sipilnya gak siap karena gak paham isu.Atau akademisinya nyerang terus karena gak pernah dikasi hibah penelitian. Rame! tapi jadi tantangan buat saya untuk menegaskan, bahwa proses pembangunan itu saling terkait.&nbsp;</p>
<p>Intinya:</p>
<p>-NGO yang mendampingi masyarakat, dampingi perempuan dan laki-lakinya. Gali kebutuhannya, infokan dan kenalkan akses ke pemda terkait sektornya. Kenalkan musrembang. Dampingi</p>
<p>-Pemdanya, kan sudah dikasi tahu tentang bagaimana perencanaan dan penganggaran yang bla..bla..tuliskan kebutuhan dari masyarakat itu (dari situ sebenarnya data dan informasi yang gak dia punya terjawab), hitung kapasitasnya dengan anggaran yang tersedia (tapi soal ketersediaan anggaran itu belum tentu,banyak potongan iya, banyak utang iya, didepositoin buat disedot bunganya juga iya)</p>
<p>-Akademisi, fungsinya hampir mirip tapi saya lebih melihat fungsinya untuk menyebarkan hasil penelitian sebagai policy paper dalam perencanaan pembangunan.&nbsp;</p>
<p>-Legislatifnya harus pinter, bisa baca anggaran dan data. gak cuma urusan nyenengin partai aja fungsinya.</p>
<p>Adakah dari daerah-daerah yang saya temui/ mungkin anda temui yang melakukan hal ini secara sinergi? saya belum.</p>
<p>Kalau ditanya, apa saya capek? beberapa waktu iya, karena pekerjaan ini memang dilakukan berulang dengan berbagai strategi. Tujuannya untuk memahamkan bahwa anggaran daerah harus ada manfaatnya bagi perempuan dan laki-laki (miskin). Dan itu mesti didokumentasikan,dihitung maju mundurnya. Terus kalau capek, mau dibiarin aja? kadang mikir gitu sih, maunya mikirin diri sendiri aja, tapi keganggu dengan fakta yang sering saya temui. Siapa yang bisa diam, kalau ada daerah yang angka partisipasi pendidikannya rendah, trafiking tinggi dan dibiarkan saja, sementara pendapatan daerahnya tinggi, pejabatnya bermobil fortuner? Saya sih cukup seneng ketemu orang yang mau belajar dan berusaha. Biasanya kalau ada jaringandi daerah yang kinerjanya oke, saya akan minta bantuan untuk tetap melakukan pendampingan sampai kira-kira mereka bisa menemukan mekanisme dan exit strategy. Ada yang berhasil ada yang enggak.</p>
<p>Yak,kira-kira itu dulu pembelajaran dan perjalanan selama 2010. Mari bekerja lebih giat di 2011! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>gambar pinjem <a href="http://www.unpac.ca/gender/workshops/winnipegFamily.html" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/04/04/tentang-2010-2-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang 2010 (1) : Perjalanan</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/03/30/tentang-2010-1-perjalanan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-2010-1-perjalanan</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/03/30/tentang-2010-1-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 15:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160;</p><p><img style="float: left;" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/c9BKeF1Uk3TM4RIxkigysqC7XWWv4kJAEk9VFDmRTMg4nxD8UllcT1BBiWXI/26112010006.jpg.scaled.1000.jpg" alt="" width="200" height="200" />Mumpung belum habis Q1 di 2011, sebaiknya saya akan sedikit bercerita apa aja yang sudah dilakukan dan jadi pekerjaan rumah di 2010. Semoga sih belum telat :D. 2010 bercerita tentang banyak hal baik di kehidupan personal maupun profesional. Yang jelas dan yang penting adalah mendapatkan kesempatan mengunjungi Aceh sampai Papua. Amazing!</p> <a href="http://ayokesini.com/2011/03/30/tentang-2010-1-perjalanan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/sofiakartika/c9BKeF1Uk3TM4RIxkigysqC7XWWv4kJAEk9VFDmRTMg4nxD8UllcT1BBiWXI/26112010006.jpg.scaled.1000.jpg" alt="" width="200" height="200" />Mumpung belum habis Q1 di 2011, sebaiknya saya akan sedikit bercerita apa aja yang sudah dilakukan dan jadi pekerjaan rumah di 2010. Semoga sih belum telat <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . 2010 bercerita tentang banyak hal baik di kehidupan personal maupun profesional. Yang jelas dan yang penting adalah mendapatkan kesempatan mengunjungi Aceh sampai Papua. Amazing!</p>
<p>Pertama, saya akan cerita dulu soal daerahnya. Daerah yang saya kunjungi beragam. Mulai dari Sumatera, sempat mengunjungi Banda Aceh. Asal tahu saja, saya jarang ke Sumatera (cuma Riau, Batam,Bukitinggi-Sedikit Padang, Medan). Daerah yang paling sering saya kunjungi hanya dua tadinya, NTT dan Sulawesi.</p>
<p>Oke, apa yang saya lakukan di Banda Aceh? bertemu dengan beberapa dosen Unsyiah yang bergabung dengan Pusat Studi Wanita untuk memahami gender budget(bahasa panjangnya perencanaan dan penganggaran responsif gender). Jadwal padat, tapi menyempatkan (baca: memaksakan) untuk ikut maghrib berjamaah di masjid raya. Jadi ceritanya setelah sholat, semua pada ngaji, saya buka laptop ngerjain tugas <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ).Daerah lain yang saya juga kunjungi Indragiri Hilir,Kepulauan Riau dan Padang- kalau di tiga daerah ini, saya bertugas melakukan pendampingan untuk gender budget pada perencanaan daerah.</p>
<p>Kedua, saya menggenapi jelajah Sulawesi saya, dengan menginjakkan kaki ke Manado dan Gorontalo. Gorontalo cukup membekas di ingatan saya, karena saya cukup berharap banyak dengan provinsi ini yang selama ini #pencitraan -nya cukup berhasil di media adalah provinsi yang cukup kaya. Cukup kaget dengan jalan rusak parah dari bandara menuju pusat kota, tambah kaget ketika malam hari lampu yang nyala di jalan sangat minim, dan ketika menuju pantai untuk makan malam di warung pinggir pantai, jalannya cukup ramai tapi minim lampu dengan kontur perbukitan mirip di Ambon. Pas makan di warung, listriknya sempat padam dan memang listrik seringkali padam di daerah ini. Jauh dari #pencitraan ya? miris juga.</p>
<p>Selanjutnya, di Mataram saya sempat sakit dan untuk kali pertama setelah puluhan tahun, saya muntah pas jalan-jalan. Bener-bener gak asik ya, cyiinn, di Mataram tapi ngerem doang. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau dulu jaman jadi jurnalis, saya selalu kebagian daerah NTT dan Sulawesi. Entah kenapa kalau ada tugas ke Kalimantan, ujung-ujungnya cerita selalu berbalik ke NTT lagi. Nah! 2010 memecahkan rekornya, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Borneo, tepatnya di Palangkaraya.Provinsi ini sebenarnya indah, apalagi wisata sungainya. Tapi, lagi-lagi kapasitas listrik sepertinya kurang memadai, hampir setiap penginapan harus punya generator kalau gak mau dikomplain pelanggannya, sering njeglek listriknya. Dan, ya transmigrasi menunjukkan batang hidungnya ketika saya ketemu tukang cilok keliling disini <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .&nbsp;</p>
<p>Yang paling fantastis adalah ke Papua, saya pernah bilang mending ke Jepang daripada ke Papua, karena tiketnya mahal dan lamanya waktu penerbangan. Tapi saya tarik itu, karena kalau dikasi kesempatan, saya pengen ke Papua lagi dan ke Papua Barat. Saya sadar ke Papua dengan berbagai beban cerita politis ketika mendampingi pemerintah daerah, tapi saya takjub dengan orang-orang muda yang bekerja di pemerintahan Papua dengan semangatnya.Salah satu isu yang tidak bisa saya jawab saat proses pendampingan adalah proses pembangunan yang kurang melibatkan perempuan adat,waktu ditanya soal ini, saya gak punya jawaban spesifik.</p>
<p>Saya bersyukur dipertemukan dengan perempuan dan laki-laki dari segala penjuru negeri ini, setidaknya mengingatkan saya untuk tetap berpikir bahwa keragaman itu sungguh indah adanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/03/30/tentang-2010-1-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Berteman, Lalu Apa?</title>
		<link>http://ayokesini.com/2011/03/21/kita-berteman-lalu-apa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kita-berteman-lalu-apa</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2011/03/21/kita-berteman-lalu-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 21:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sisterhood]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><img style="float: left;" src="http://www.urbanowldesign.com/images/portfolio/sisterhood.jpg" alt="" width="248" height="256" /></p><p>yay!nge-blog lagi :)). Sekarang mau ngobrol soal pertemanan. Semua orang pasti memiliki teman, meskipun ada yang ngaku penyendiri dan suka sulit berteman, pasti punya teman. Buktinya, jejaring pertemanan online seperti facebook atau dulunya frenster itu rame banget disini. Pengguna fesbuk di Indonesia katanya nomor dua di dunia, dan kemaren liat di twitter kabarnya yang paling banyak komen di fesbuk sih perempuan.&#160;</p> <a href="http://ayokesini.com/2011/03/21/kita-berteman-lalu-apa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.urbanowldesign.com/images/portfolio/sisterhood.jpg" alt="" width="248" height="256" /></p>
<p>yay!nge-blog lagi <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Sekarang mau ngobrol soal pertemanan. Semua orang pasti memiliki teman, meskipun ada yang ngaku penyendiri dan suka sulit berteman, pasti punya teman. Buktinya, jejaring pertemanan online seperti facebook atau dulunya frenster itu rame banget disini. Pengguna fesbuk di Indonesia katanya nomor dua di dunia, dan kemaren liat di twitter kabarnya yang paling banyak komen di fesbuk sih perempuan.&nbsp;</p>
<p><!--break-->
<p>Kenapa perempuan suka berteman? karena dia ingin berbagi. Yak itu jawaban saya untuk semua stereotipe yang saya temui sehari-hari, yang menggambarkan perempuan suka berteman karena tukang rumpi (terus kenapa kalau rumpi?), atau karena doyan ngomong, atau kodratnya emang gitu. Kodrat gak ada hubungannya sama hobi berteman,cyiin. Perempuan berteman karena ingin berbagi.Gak percaya?</p>
<p>Yuk, kita itung berapa komunitas yang basisnya adalah kelompok perempuan mulai dari AIMI ASI,The Urban Mama, Fashionese Daily,belum ditambah lagi kelompok-kelompok yang basisnya komunitas offline, baik yang muncul dari kebutuhan sendiri, hasil dampingan organisasi perempuan atau bentukan program pemerintah.Banyak kan? banyak kan?&nbsp;</p>
<p>&#8216;Berteman, Berbagi dan Bersuara&#8217;, saya percaya ini,setelah baca buku gerakan perempuan di Amerika Latin, dan kemudian bergiat di beberapa organisasi perempuan. Semakin percaya, gara-gara nonton Surviving Motherhood di Discovery, intinya acara itu simple, ibu rumah tangga itu profesi yang gak main-main dan fulltime job. Namanya juga profesi pasti ada kesulitan, bosen,nah disitulah acara ini muncul membahas bagaimana ibu rumah tangga ini berbicara tentang keseharian. Sederhana tapi cukup untuk berbagi beban.Tak jarang setelah berteman dan berkumpul kemudian muncul gerakan sosial (meski kecil) di masyarakat yang dilakukan oleh perempuan.&nbsp;</p>
<p>Kalau kita berteman dan berkelompok, biasanya pembicaraan kita cuma didengar &#8216;lokal&#8217; aja kan? kadang saya sebagai perempuan pengen suara kebutuhan saya didengar. caranya? kalau saya sih dengan menulis. Sebenarnya ada banyak cara lain, tapi yang paling mudah saya lakukan ya nulis.Kalau ada cara lain, sila lho ditambahken di komen <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Oiya,kata seorang teman pertemanan perempuan itu pasti ada Divanya,daaan saya gak setuju. Karena setiap perempuan adalah Diva, maka saya yakin pertemanan itu pasti setara! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> &nbsp;</p>
<p>gambar pinjem dari <a href="http://www.urbanowldesign.com/portfolio_sisters.htm" target="_blank">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2011/03/21/kita-berteman-lalu-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan Akhir Tahun Kemana?!</title>
		<link>http://ayokesini.com/2010/11/11/liburan-akhir-tahun-kemana/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=liburan-akhir-tahun-kemana</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2010/11/11/liburan-akhir-tahun-kemana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 08:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia travel]]></category>
		<category><![CDATA[labuan bajo]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[raja ampat]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<img style="float: left;" src="http://indonesia.travel/media/images/upload/image/papuabarat-1.jpg" alt="" width="200" height="198" /><p>Ternyata sudah hampir akhir tahun 2010, gak terasa di tengah-tengah kerjaan yang menumpuk. Tiba-tiba pengen jalan-jalan kemana gitu. Jalannya, jalan-jalan liburan ya bukan jalan-jalan kerjaan :D</p> <a href="http://ayokesini.com/2010/11/11/liburan-akhir-tahun-kemana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--break-->
<p><img class="alignleft" src="http://indonesia.travel/media/images/upload/image/papuabarat-1.jpg" alt="" width="200" height="198" />Halo! Jumpa lagi kita disini! . kangen gak? Saya sih masih nulis di beberapa tempat, jadi yang disini agak terbengkalai. Tapi jangan khawatir, diusahakan tetap semangat buat nulis di ayokesini <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Ternyata sudah hampir akhir tahun 2010, gak terasa di tengah-tengah kerjaan yang menumpuk. Tiba-tiba pengen jalan-jalan kemana gitu. Jalannya, jalan-jalan liburan ya bukan jalan-jalan kerjaan <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Minggu depan rencananya saya mau ke Papua. Ngulik sana-sini cari tempat yang indah ternyata saya ketemu info tentang <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/248/raja-ampat" target="_blank">Raja Ampat</a>. Sering dengar soal Raja Ampat ini, tempat paling cihuy buat yang hobi snorkeling dan diving, pokoknya foto-foto disini tampak sangat menggugah hasrat liburan, lihat ikan-ikan seliweran…duh.</p>
<p><img style="vertical-align: middle;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/poi/115_%20Raja%20Ampat,%20Only%20for%20Real%20Adventurers.jpg" alt="" width="200" height="213" /><br />Udah seneng-senengnya mau ke Raja Ampat ternyata saya salah aja donk. Saya akan ke Papua, iya sementara Raja Ampat ada di <a href="http://www.indonesia.travel/en/discover-indonesia/region-detail/51/west-papua" target="_blank">Papua Barat</a>, hiks!. Info soal Raja Ampat yang berada di Papua Barat ini saya dapat dari <a href="http://www.indonesia.travel/" target="_blank">Indonesia travel</a> yang cukup informatif&nbsp; buat orang-orang yang kurang liburan seperti saya ini <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Kenapa informatif? karena banyak tempat-tempat lain yang bisa dijadikan alternatif buat yang bikin snorkeling atau diving (kalau saya snorkeling aja deh, gak mahir berenang sih, hihihi). Tempat apa sajakah itu? <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/482/dive-the-islands-off-makassar" target="_blank">Dive The Island off Makassar</a> ini bikin penasaran, soalnya sejauh ini kalau ke Makassar selain ke Losari, saya ke Bantimurung. Yang deket Jakarta juga ada lho, <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/240/the-thousand-islands" target="_blank">Pulau Seribu</a>-lah tempatnya! <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ). Lalu ada Labuan Bajo (impian kedua setelah Raja Ampat), sekarang mudah ke <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/92/labuan-bajo" target="_blank">Labuan Bajo</a>, pesawatnya ada yang dari Denpasar lho <img src='http://ayokesini.com/wp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><img style="vertical-align: middle;" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/poi/thumbnails/61-01.jpg" alt="" width="150" height="130" /><br />Setelah lihat gambar-gambar cantik tempat liburan ini, keinginan untuk liburan akhir tahun semakin menguat! Dan lagi-lagi saya nemu sesuatu yang cihuy di Indonesia.travel ini ada <a href="http://trip.indonesia.travel/" target="_blank">trip plannernya</a>!! Lucu deh!. Eh, uda ya, saya mau ngulik-nglik trip-planner ini, mau menggapai impian&nbsp; nyobain snorkeling di Raja Ampat atau paling enggak Labuan Bajo! Doakan saya ya! eh, liburan bareng yuk!</p>
<p>Foto-foto dari <a href="http://www.indonesia.travel/">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2010/11/11/liburan-akhir-tahun-kemana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terimakasih Kartini dan Saskia!</title>
		<link>http://ayokesini.com/2010/04/30/terimakasih-kartini-dan-saskia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=terimakasih-kartini-dan-saskia</link>
		<comments>http://ayokesini.com/2010/04/30/terimakasih-kartini-dan-saskia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 23:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Kartika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[kompetiblog]]></category>
		<category><![CDATA[studi di belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com" target="_blank"><img src="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/wp-content/uploads/2010/04/kompetiblog2010.png" alt="" align="left" /></a> Adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini" target="_blank">Kartini</a> yang ingin berbagi dengan para sahabatnya di Belanda tentang apa dan bagaimana kondisi sosial di Indonesia saat itu.&#160; Tulisan-tulisan dalam surat yang menceritakan kondisinya dan lingkungan di sekitarnya itu, siapa nyana kelak akan didokumentasikan dan menjadi bagian penting bagi sejarah.</p> <a href="http://ayokesini.com/2010/04/30/terimakasih-kartini-dan-saskia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com" target="_blank"><img src="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/wp-content/uploads/2010/04/kompetiblog2010.png" alt="" align="left" /></a> Adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini" target="_blank">Kartini</a> yang ingin berbagi dengan para sahabatnya di Belanda tentang apa dan bagaimana kondisi sosial di Indonesia saat itu.&nbsp; Tulisan-tulisan dalam surat yang menceritakan kondisinya dan lingkungan di sekitarnya itu, siapa nyana kelak akan didokumentasikan dan menjadi bagian penting bagi sejarah.</p>
<p>Entah ide dari siapa awalnya untuk berkirim surat dan menuangkan isi hati dan pikiran Kartini saat itu, dan sejarah mengatakan&nbsp; setelah Kartini wafat, tersebutlah<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/J.H._Abendanon" target="_blank"> Abendanon </a>yang memiliki inisitif mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada teman-temannya di Eropa. Tentunya tak lepas dari kontroversi, mengingat posisi Abendanon saat itu sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.</p>
<p>Dari surat-surat Kartini yang dikumpulkan tersebut, tergambarlah sejarah. Sejarah dimana patriarki menempatkan perempuan sebagai ‘konco wingking’, yang kemudian menjadikan Kartini sebagai ‘korban’ patriarki, yang tidak dapat mengaktualisasikan dirinya akibat lingkungan disekitarnya.<br />Kemudian saya mengetahui <a href="http://www.assr.nl/scholars/staff/wieringa.html" target="_blank">Saskia Wieringa</a> yang menuliskan fakta dan informasi tentang gerakan perempuan di Indonesia. Siapa Saskia? Dia adalah salah salah satu pendiri Kartini Network, sebuah jaringan yang berbasis pada isu-isu perempuan. Dia adalah penulis buku ‘Penghancuran Gerakan Perempuan Di Indonesia’ yang merupakan referensi lengkap dalam menelusuri jejak-jejak gerakan perempuan di Indonesia yang selama ini seolah ‘lenyap’. Juga fakta tentang Gerwani.</p>
<p>Tulisan, dokumentasi dan sejarah menjadi bagian yang menarik dalam Kartini dan Saskia. Apa jadinya jika mereka tak menulis dan berbagi? Mungkin saya tidak tahu Kartini adalah korban poligami dan Gerwani bukan bagian dari PKI?</p>
<p>Ingatan saya ketika berbicara tentang dokumentasi dan sejarah adalah <a href="http://www.kitlv.nl/home/Organization/" target="_blank">KITLV,</a> sebuah organisasi yang yang melakukan riset dengan mengumpulkan berbagai informasi dan dokumentasi yang menggambarkan kondisi sejarah, Indonesia adalah salah satu wilayah kerjanya. Anda bisa melihat foto-foto jaman dahulu, informasi yang mungkin belum pernah ditemui disini. Menakjubkan bukan?</p>
<p>Seni pendokumentasian menjadi bagian penting dalam sebuah perkembangan dunia dimanapun anda berada, sayangnya tidak banyak yang sadar dan kurang dukungan.</p>
<p>Kini, melalui kompetiblog ini, berbagai tulisan dikumpulkan dan didokumentasikan mengulas tentang inovasi dari Belanda dari ragam perspektif. Mungkin saja ini nanti akan menjadi bagian dari perkembangan sejarah. Untuk itu saya menuliskan ini bahwa mungkin tulisan sederhana ini akan mengingatkan kembali tentang pentingnya dokumentasi dan sejarah, untuk mencari sebuah jejak yang mungkin lenyap. Dalam hal ini terutama tentang sejarah gerakan perempuan di Indonesia yang saya dapat dari Kartini dan Saskia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayokesini.com/2010/04/30/terimakasih-kartini-dan-saskia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

