Baru beberapa waktu yang lalu saya menuliskan pengalaman saya bertemu dengan ibu-ibu di Karangpatihan, Ponorogo sekitar 2007-2008 yang lalu, tentang bagaimana proses perbaikan lingkungan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan di desa itu. Beberapa waktu yang lalu media ramai menyiarkan berita yang mengagetkan tentang kondisi masyarakat Karangpatihan, yaitu gizi buruk.
Sekitar tahun medio 2007-2008 saya memang berkunjung ke desa tersebut, entah karena saya hanya mengunjungi rumah warga saja, atau memang ada yang terselip yang kurang saya perhatikan. Tetapi dari beberapa rumah yang saya kunjungi memang masih berlantai tanah dengan bangunan setengah jadi. Melangkah ke dapur, masih dapur tradisional menggunakan tungku dengan toilet yang masih tradisional pula. Tidak jauh dari pintu dapur, berbagai ada kandang ayam atau kambing. Tidak memenuhi syarat kesehatan? Iya. Hal ini yang juga menjadi perhatian saya ketika berbincang dengan ibu-ibu di Karangpatihan mengenai dapur yang sehat.
Soal gizi buruk? Saya baru mendengar berita ini beberapa waktu yang lalu. Agak heran? Tentunya, karena sepengetahuan saya umbi-umbi-an, sayur atau protein rata-rata bisa diambil dari pekarangan rumah masing-masing. Soal kesehatan terkait dengan berita ini? Sepertinya harus ditelusuri kembali.
Pada dasarnya, tulisan saya sebelumnya adalah satu entry point yang bisa dijadikan alternative untuk menjawab kebutuhan masyarakat perempuan dan laki-laki dalam program pembangunan.
Entry point-nya bisa saja lingkungan, tapi dari satu isu tersebut harus juga bisa menjawab persoalan kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya yang menjadi kebutuhan penerima manfaat. Dan disitulah tantangannya.
Comments
Post new comment