User login

Connect
Sign in using Facebook

Remah Cerita Jogja-Jakarta

Jakarta Timur, saya bertemu dengan ibu-ibu PKK yang kabarnya seringkali
mendapatkan penghargaan PKK tingkat nasional. Berbeda dari apa yang saya
bayangkan, saya tidak melintasi gang-gang sempit kecil, atau rumah
susun sederhana ketika bertemu ibu-ibu tersebut. Saya memasuki sebuah
perumahan bersih, dengan banyak rumah bertingkat dua, dan taman yang
indah di depan rumah. Ouch!


Di salah satu rumah berlantai dua dengan warna dominan coklat dan desain
interior yang saya suka! ada kursi rotan mungil ala jaman dulu, dengan
kaleng-kaleng jadul tempat makanan kecil. Cantik deh pokoknya. Saya
diajak ke kamar oleh ibu-ibu ini, oh rupanya kamar ini adalah contoh
desain kamar pengantin dan beberapa contoh bed cover berbagai ukuran. Di
depan, eh ada hasil rancangan baju muslim yang salah satu desainernya
saya temukan di JFW 2009.


Tadinya saya memang membayangkan kalau ibu-ibu PKK di kawasan DKI
Jakarta adalah ibu-ibu yang ada di gang sempit yang berhasil mengubah
kawasan gangnya yang tadinya kumuh jadi bersih dan hijau, ya seperti
yang sering ditampilkan di televise tentang cerita baik sekelompok ibu
yang berhasil mengolah sampah atau menghijaukan lingkungan. Ternyata,
tidak selalu begitu ;)

Yogyakarta, Di suatu siang yang terik, saya berkesempatan ke  kota
klangenan itu. Berjalan keliling kota sampai di suatu dusun, yang
uhm..saya lupa namanya, tapi saya ingat informasi dari teman
seperjalanan bahwa dusun di Imogiri ini adalah dusun yang terkena dampak
gempa beberapa tahun yang lalu.


Saya bertemu dengan ibu-ibu di sebuah balai perkumpulan dekat masjid
dengan pandangan kanan kiri lahan hijau, yang isinya palawija. Ibu-ibu
ini tampak riuh siang itu, rupanya mereka sedang membuat sari kedelai.
Sari kedelai adalah salah satu hasil dari kegiatan ibu-ibu ini, rasanya
segar ada perpaduan jahenya meski bagi saya terlalu manis. Ternyata gak
Cuma sari kedelai, ada tas rajutan berbahan sederhana tapi cukup cantik.


Terakhir sebelum beranjak dari dusun tersebut, saya iseng tanya ke
ibu-ibu tersebut soal pemasaran. Ternyata memang persoalan, banyak ide
tapi tidak punya jaringan. “ Ibu punya Facebook? “ , tanya saya. Si ibu
bilang, “ punya mbak, barengan sama anak saya”. Asik!

Lalu?
Ehm, saya cuma mau bercerita pengalaman bertemu dengan sebagian kecil
perempuan pengusaha mikro dan kecil yang berbeda secara geografis dan
kebutuhan.  Yang di Jakarta misalnya, tak khawatir soal jaringan
pemasaran, mereka mampu dan memiliki akses untuk dapat masuk ke SMESCO
(yang menurut mereka sepi itu), pameran tingkat nasional? Tak kurang,
sampai Ambon mereka telah berpameran. Pesanan? Apalagi. Lalu persoalan
apa yang muncul? Mereka ingin berkoperasi tapi khawatir dengan jaminan,
bunga yang tinggi dan lain sebagainya. Selama ini ibu-ibu PKK di salah
satu kawasan Jakarta Timur ini mendapatkan akses bantuan keuangan, murni
dari PKK, belum berani ke bank atau koperasi katanya, karena khawatir.

Sementara di Yogyakarta, punya kelompok dan bekerjasama meskipun belum
menjadi koperasi. Kendala mereka, pemasaran dan akses ke jaringan serta
informasi bagaimana meningkatkan mutu dari hasil kerajinan buatan
mereka, sehingga bisa ikut pameran dan pesanan bisa meningkat.
Entahlah saya kepikiran situs atau web-nya smesco atau Kementerian UKM
itu isinya apa ya? lalu apakah mereka melakukan campaign? saya yakin ibu
di Jakarta pasti sudah ‘lanyah’ dengan tekhnologi, sementara yang di
Yogyakarta sudah punya facebook.  Apakah bentuk informasi dan strategi
penyebaran informasi kah yang jadi penyebabnya? Atau akses terhadap
informasinya?

sumber gambar 

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options