<!--[endif]-->
Pas saya datang, rupanya 20 menit film pertama sudah terlewat, jadi cerita tentang buruh migran perempuan di Hongkong tak terkejar. Selanjutnya, Sunat Perempuan dalam ‘Untuk Apa’ , menggambarkan multitafsir yang muncul terhadap praktek sunat perempuan, yang secara kesehatan sebenarnya tidak diijinkan, karena dikhawatirkan justru melukai alat reproduksi perempuan. Tafsir yang muncul pun sangat diskriminatif, bahwa sunat perempuan dilakukan agar perempuan tidak ‘liar’ dan syahwatnya bisa dikontrol (waktu adegan seorang tokoh berkata seperti itu, penonton langsung tertawa terbahak-bahak, menggelikan). Soal sunat ini, juga saya bagi di plurk , seorang teman malah bertanya, bukannya nafsu seksual ditentukan oleh hormon ya?
Potret layanan kesehatan reproduksi dalam bagian sunat perempuan adalah banyak yang tidak mematuhi bahwa dalam perspektif kesehatan, praktek ini tidak diijinkan, namun realita bahwa ada seorang ibu yang bayinya secara diam-diam ditindik dan disunat tanpa persetujuan ibu-nya pun dilakukan oleh rumah sakit.
Cerita kedua ‘Nona atau Nyonya’ , tentang layanan pap-smear untuk perempuan, saya baru tahu kalau dalam pelayanan pap-smear ada pengisian identitas salah satunya status Nona atau Nyonya. Beberapa pengalaman perempuan yang masih berstatus nona dalam cerita ketiga ini, menggambarkan bahwa pelayanan kesehatan reproduksi perempuan terhambat dengan identitas.
Tampaknya ada kesalahpahaman, menurut salah satu dokter yang menjadi narasumber dalam cerita tersebut, harusnya dalam konteks pap-smear yang dipahami adalah seksual aktif atau tidak. Padahal, pap-smear adalah salah satu langkah awal untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan infeksi dalam alat reproduksi perempuan,sebagai salah satu pencegahan terjadinya kanker, jadi mengapa harus ada diskriminasi terhadap status perempuan?
Ragat’e Anak yang menjadi pamungkas dalam jalinan empat cerita di Pertaruhan ini, menjadi gambaran perempuan yang bertahan hidup demi sebuah perbaikan hidup untuk anak-anaknya dan rela bekerja siang-malam. Siang sebagai pemecah batu dan malam sebagai pekerja seks komersial di area Gunung Bolo, TulungAgung. Bayangkan saja, Si Ibu, yang harus bekerja sebagai PSK, memperoleh upah 10.000 per layanan yang diberikannya, itupun harus dipotong oleh pungutan liar preman-preman (laki-laki) setempat yang hidup dari desahan perempuan-perempuan Gunung Bolo, memprihatinkan.
Layanan kesehatan reproduksi yang diberikan untuk pekerja seks komersial meskipun telah diberikan oleh pekerja sosial yang bekerja di tingkat lokal dengan menyediakan kondom, pun masih harus ditingkatkan lagi, paling tidak harus rutin. Dan itu harusnya tanggung jawab pemerintah daerah dalam menyediakan layanan kesehatan reproduksi yang layak.
Begitulah gambaran serpihan dari layanan kesehatan reproduksi yang sangat baik divisualisasikan di Film Pertaruhan ini, anda harus nonton film ini, kabarnya film ini akan ada DVD-nya, begitu yang disampaikan Nia Dinata-sang produser.
Comments
Post new comment