Bisa jadi ‘rasa’ tulisan ini agak berbeda. Iya, inspirasi tulisan ini memang datang dari seminggu yang lalu mendapatkan kesempatan menyaksikan gelaran fashion, Jakarta Fashion Week. Kenapa saya mau hadir? Selain penikmat kain dan desain cantik, saya ingin tahu bagaimana cara desainer papan atas Indonesia yang muncul di JFW ini mengolah cita rasa kain tradisional berbagai daerah dalam bentuk desain yang unik.
Mengapa desain penting? Karena beberapa perjalanan ke berbagai daerah dan bertemu dengan para perajin kain tradisional, salah satu tantangan yang mereka hadapi untuk bertahan di tengah serbuan busana ready to wear, atau produk masal dari Cina adalah desain (termasuk di dalamnya adalah mengolah motif).
Soal desain dan transfer pengetahuan antara desainer ternama dan perajin menjadi salah satu hal yang bisa mendorong kelanggengan kain tradisional khas Indonesia.
Mitra yang setara kurang lebih begitu. Sehingga muncul timbal balik sesuai dengan kebutuhan antara fashion designer dan perajin kain. Itu penting, paling enggak jangan sampai seperti satu pengalaman saya ketika bertemu perajin kain tenun Donggala tahun yang lalu.
Posisi Jakarta Fashion Week? Selain menjadi proses fasilitasi antara buyer dan desainer papan atas, menurut saya strategis juga jika ditambah satu pemangku kepetingan lagi yaitu perajin kain tradisional entah itu batik khas Solo, Sasirangan, Tenun Donggala, Tenun Flores sampai Batik Madura. Untuk apa? Untuk menjembatani tadi soal tren yang sedang berkembang di pasaran, kreativitas (ehm, mungkin bisa share dengan para finalis LPM) dan juga soal pasar, karena banyak buyer yang hadir. Seru juga ya sepertinya? ;).
Pada intinya seperti judul tulisan ini ‘Mengemas Nusantara, Rasa Ibukota’ , lebih pada mengemas cita rasa kain khas Indonesia dengan selera yang tidak hanya mengikuti selera pasar tapi menciptakan trend dan pasar sendiri *nulis gampang, prakteknya, nek!* :D
Di luar fungsinya yang strategis tadi, saya menikmati betul olahan-olahan kain dan desain dari fashion designer ternama tersebut, favorit saya Lenny Agustin dan Carmanita. Oh, dan juga para finalis LPM yang koleksinya bikin ngiler, Kursein dengan tema Save the Forest dan Vinora dengan Edito-nya, so adorable! Gak rugi deh lima hari nongkrong di JFW, bikin makin cinta sama kain-kain Indonesia!
foto pinjam dari sini
Comments
Hehe.. jiyeh yang nogkrongin
Hehe.. jiyeh yang nogkrongin JFW ampe puyeng.. :D
Iyaa.. rancangannya bagus2 ya.. apalagi kalo wearable dan make bahan2 aseli indonesia. Kamu kok naro fotonya cuma 1..? Kurang nih.. kurnag!! We want more!! we want more!! Curanmor!
huhuhu gaya gitu kita
huhuhu gaya gitu kita nongkrong di JFW *joged*. lha fotonyah aja pinjem itu ke om pitra. mau yang lebih banyak? silahkan mengunjungi link yang telah disebutkah dibawah. terimakasih .hahaha
Post new comment