Isu Perempuan merupakan isu berat, eksklusif dengan bahasa ‘tinggi’ dan mengawang-awang? Kini, tidak lagi! Bagaimana caranya? Mencoba lebih dekat dengan publik yang bukan dari kelompok 'aktivis' dan melibatkan private sector. Mungkin ini merupakan terjemahan dari kedermawanan sosial atau filantropi yang memang dikhusukan untuk mengurangi kesenjangan perempuan dan laki-laki dan membuka akses dan partisipasi perempuan dalam ruang-ruang yang membuat mereka menjadi lebih ‘ berdaya’.
Sudahkah ada upaya itu? Ada! Coba tengok disini. Peduli Perempuan seperti sebuah wadah bagi 6 organisasi atau lembaga sawadaya masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap isu perempuan, pendampingan korban kekerasan dan lain sebagainya. Wadah ini mulai melakukan terobosan dengan memanfaatkan ‘celah’ yang mungkin belum tersentuh dengan maksimal di ranah gerakan perempuan, yaitu filantropi.
Bagaimana mengolah ‘celah’ itu menjadi ‘terobosan’ yang strategis? Peduli Perempuan bisa menjadi salah satu contoh dan pembelajaran. Pertama, adalah mencoba untuk tahu tentang tekhnologi informasi. Saya ingat betul, saya kenal dengan Peduli Perempuan karena menjadi ‘pengamat’ dalam pelatihan blog yang dilakukan di Salemba Tengah. Meski kini blognya sudah ada, tapi tampaknya belum berjalan dengan baik, fungsinya ;).
Ketidakmasimalan di blog tersebut, diuntungkan dengan jejaring sosial media yang ‘hip’ yaitu facebook. Promosi dan sosialisasi kegiatan diinformasikan melalui facebook, baik dari status yang digunakan oleh awak Peduli Perempuan maupun melalui fasilitas ‘tagged’ untuk mengetahui perkembangan program dan kegiatan apa yang sedang berjalan. Sejauh ini, kampanye melalui facebook berjalan cukup baik. Tapi, Twitter belum ya? ;).
Kedua adalah mendekatkan isu perempuan ke publik. Dekat dalam hal ini adalah tantangan, dan kadang jadi kontroversi. Ini diungkapkan dalam salah satu sesi diskusi aktivisme berkelanjutan. Anik Wusari, salah satu penggagas Pundi Perempuan dan Peduli Perempuan mengatakan ada beberapa suara sumbang yang pernah didengar ketika menjalankan Pundi Perempuan dengan mengumpulkan donasi di Mall, dulu.
Nah, Peduli Perempuan kini ‘berani’ menggaet selebritas yang ‘dianggap’ memiliki visi yang sama untuk bisa bekerjasama dan membantu proses donasi yang sepenuhnya ditujukan untuk berbagai program, seperti pemberdayaan ekonomi, pendampingan korban kekerasan dan trafiking. Melanie Subono adalah salah satunya. Anda pernah melihat Melanie menyanyi di Mall Pejaten? mungkin itu adalah salah satu acara donasi Peduli Perempuan.
Selain itu, melalui CSR, dilakukan beberapa kali dengan pengumpulan donasi dengan cara yang simple, ya, seperti anda belanja produk sekaligus berdonasi. Misalnya yang dilakukan dengan Unilever. Yang terakhir saya ikuti adalah The Surviving Female Peddlers yaitu perpaduan lomba foto, lelang dan donasi. Sederhana tapi serius.
Ada banyak hal yang bisa dimaksimalkan, langkah awal Peduli Perempuan menerjemahkan kedermawanan sosial menurut saya bisa dibilang ‘menggarap’ celah yang mungkin belum dilirik. Pemanfaatan tekhnologi informasi, memaksimalkan blog dan mencoba twitter misalnya boleh juga lho dicoba ;)
sumber gambar dari sini
Comments
Post new comment