Hari gini kalau gak twitter-an, kurang ‘hip’ katanya. Teman-teman tahu kan, beberapa menteri periode saat ini telah menggunakan jejaring sosial media online? Misalnya @tifsembiring , si menteri kominfo itu. Sayangnya, para menteri belum sepenuhnya menggunakan jejaring sosial ini dengan maksimal. Maksimal disini ya sesuai dengan pekerjaan para menteri donk. Misalnya memberikan informasi kepada publik tentang program dan kegiatan per tahun (sesuai RKP), arah kebijakan di rencana strategis, ya istilahnya musrembang online gitu. Lucu kan? Atau mengkampanyekan isu sesuai dengan Kementerian/ Departemen yang dibawahinya. Kalau kominfo ya transparansi, informasi atau ICTD (ICT for development)-tapi ya yang strategis, jangan pake tebakan lagu dan penghujat paling keren ;). Kalau ibu menteri pemberdayaan perempuan? ya mendekatkan isu perempuan, gender, pengarusutamaan gender ke publik.Jelas.
Ibu Linda Gumelar, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ternyata punya twitter @LindaGumelar , nah tantangan beliau ya kurang lebih sama seperti yang saya sebutkan diatas. Menkampanyekan isu anti kekerasan terhadap perempuan misalnya di momen 16 hari anti kekerasan, atau nanti tanggal 22 Desember nanti aka nada Hari Ibu sekaligus penyerahan Anugerah Parahita Ekapraya yang diberikan kepada daerah dan Lembaga Negara yang memiliki komitmen untuk melakukan pengarusutamaan gender. Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan itu dalam 140 karakter di twitter? Its okay bu, ibu bisa lihat akun seperti @care , @unifem @thegenderwire atau punya saya @sofiakartika *boleh donk narsis* bagaimana mencoba untuk mendekatkan isu itu :D.
Yang rentan adalah info yang tidak diselesaikan karena jarang nge-tweet :D. Jadi saya harap dalam sehari ibu menteri paling tidak bisa 5-7 kali memberikan info yang tidak terputus. Misalnya ini:
Penyebab KDRT umumnya faktor ekonomi dan kurang harmonisnya hubungan suami isteri.
about 4 hours ago from web
Hem, itu lho yang kurang harmonisnya suami istri itu, itu kan panjang dan harus jelas intinya bahwa pola relasi harus setara dan tidak ada yang mendapatkan beban ganda. Misalnya seperti itu. Ya, jangan sampai nantinya pesan yang dikeluarkan justru mendiskriminasikan perempuan atau malah melanggengkan patriarki. Bahaya kan? ;)
Nah, bagaimana ibu menteri, sudah siap dengan tweet-tweet yang inspiratif? Saya tunggu lho bu tentunya diikuti kebijakan, program dan kegiatan yang nyata untuk mengurangi kesenjangan perempuan dan laki-laki ;). Kalau ditambah nge-blog kayaknya asik juga *banyak maunya*
terimakasih buat mbak fira aka @shardani untuk ide capacity building lewat twitter dan blog, hasil rumpi di twitter nih tulisan :D
gambar diunduh dari sini
Comments
:O
:O
such a great idea, maam. gmn
such a great idea, maam. gmn ya caranya ide ini didenger mereka yang dituju?
hihihihi.. love your
hihihihi.. love your thought, sista!!
ayooo, kita mau bikin apa
ayooo, kita mau bikin apa mbak? hihihihii :D
kok saya sama twitter nggak
kok saya sama twitter nggak tertarik blas yaw...
saya punya akun twitter sejak 5-6bulan lalu dan nggak pernah tak sentuh sejak habis bikin hingga sekarng.
cuman tak hubungkan dengan plurk aja biar otomatis apdet .. :D
kalau saya, aslinya
kalau saya, aslinya membutuhkan keduanya twitter unt update informasi terbaru isu-isu yang memang saya butuhkan, plurk untuk ngobrolin beberapa isu itu. jadi saya suka dua-duanya! :D (LOL)
keterbatasan 140 karakter
keterbatasan 140 karakter memang pasti menghasilkan intrepretasi berkepanjangan kalo info ga selesai. Mestinya si Ibu menteri di suruh nge-blg aja.. :lol:
nah! untuk itu mbak, gimana
nah! untuk itu mbak, gimana caranya biar si ibu atau humasnya si ibu menteri mau nge-blog dan promo tulisan lewat twitter. atau bagaimana caranya bisa menggabungkan keduanya *mikir* :))
@katarara eng, apa tulisan
@katarara
eng, apa tulisan ini kita cc ke akun ibu menteri aja ya, tapi dia agak kurang rajin update tweetnya sih. ehm, apa ngomong langsung ke para deputi? haha
@lindaleenk
linda..linda kenapa? :D
Post new comment