Tulisan kali ini akan bercerita tentang teman saya. Namanya Sari? Sari Oktafiana adalah nama lengkapnya. Teman kuliah saya tepatnya, anaknya serius. Ini serius, bahwa Sari adalah orang yang serius, terutama tentang pendidikan dan ilmu kesukaannya Sosiologi. Di jaman kuliah, dia adalah seorang yang kritis, belakangan kalau pas bisa ketemu Sari ini mesti dititipin pesen,” Sar, nanti ngobrolnya ringan-ringan aja ya, jangan serius..” (hihihi, pis Sar!
Tulisan ini mungkin terlihat personal, karena Sari memang teman saya. Ngomong-ngomong dia berprofesi sebagai pendidik. Sempat menjadi pendidik di salah satu sekolah swasta di Surabaya, ngajar Sosiologi. Dulu, waktu blog ini masih hangat-hangatnya punya rencana sama Sari untuk mem-publish tulisan anak didiknya yang menjadi bagian tugas pelajaran. Sayangnya masih rencana
, maaf ya Sar.
Sebagai Guru Sosiologi yang memang menjadi passionnya, saya suka lihat pas kebetulan buka facebook, si ibu guru sedang bercengkerama dengan muridnya tentang tugas sekolah dan apa sajalah. Menyenangkan bukan?. Kini, Sari menjadi pendidik di Yogya, kota tercinta. Dan karena kecintaannya akan Sosiologi dan dunia pendidikan, saya gak sengaja lihat di facebook (lagi), Ibu Guru Sari bikin kelompok Belajar Sosiologi. Guru yang keren. Ngikutin tren
Lalu saya mengganggunya untuk ngobrol dikit sama si Ibu Kepala Sekolah yang baik hati ini, katanya sih dia ngakak baca pertanyaan yang kuajukan.
Ibu Sari sehari-harinya ngapain aja sih?
Aku seorang guru, dengan background Sosiologi dan sangat mencintai belajar Sosiologi sebagai ilmu yang telah membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda..setidaknya ilmu ini membuatku melihat dunia secara “beyond my eyes”. Selama 2 tahun menjadi asisten dosen di Ubaya dan 4 tahun menjadi guru sosiologi membuatku semakin mendalami sosiologi. Teori dan buku-buku sosiologi selalu diatas meja kerja dan hidup dalam kalbuku…
Tentang kecintaannya pada murid dan Sosiologi
Bayangkan saja dulu setiap hari di Ciputra mengajar sosiologi kepada 50 murid. Dan meneriakkan arti pentingnya belajar sosiologi untuk mengupas dan menganalis setiap fenomena dalam masyarakat.
Setiap mengajar dan membuat anak-anak paham adalah sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang tak ternilai. Selalu membaca paper dan tugas dari murid akhirnya membuat sosiologi semakin jauh merasuk dalam hidupku.
Bikin Belajar Sosiologi karena?
Sekarang setelah berpisah dengan murid2ku di Ciputra (kamu harus membaca tulisanku dan akupun sayang…untuk memahaminya) aku memiliki beban moral dan tanggung jawab untuk terus mengajar murid-muridku yang di ciputra. Kami setiap hari bbm bahkan skype (teleconference) aku mengajar mereka. akhirnya karena aq harus menyiapkan materi ajar aku menggunakan FB untuk membikin kelompok belajar sehingga I can teach my students wherever I am.
Aku meyakini mahluk buatan Mark Zuckenberg diakses oleh banyak orang termasuk semua murid-muridku. karena aku sering posting hal-hal yang semua berkaitan sosiologi banyak orang yang akhirnya bergabung dan tentunya membuatku terus belajar sosiologi.
Singkat ya ngobrolnya?
Iya soalnya yang tanya bingung juga, saking terpananya sama kecintaan si Ibu Guru Sari kepada muridnya juga dengan Sosiologi ini. Sukak!
. Semoga Ibu Guru Sari selalu punya energi untuk belajar sosiologi bersama siapa saja dengan media apa saja. Demi menumbuhkan perspektif kritis terhadap apa yang ada di sekitar, bukan begitu bu?
Ehm, kalau mau tahu lebih banyak tentang Sosiologi bisa lho berbincang dengan Ibu Sari di sini.
Foto-foto dari koleksi Sari.

