Cerita ToP

“ Jadi fasilitator tuh paling beratnya adalah pas masuk ruangan dan menghilangkan segala bentuk stereotipe pada pesertanya” , begitu celetuk seorang teman waktu ngobrol soal tips dan trik jadi fasilitator.

Saya akan mengawali dengan sedikit romansa masa lalu, medio 2000 saya pernah ikut training buat menjadi fasilitator dan bagaimana fasilitasi yang baik itu. Isi pelatihannya? pengetahuan tentang prinsip fasilitasi- model pendidikan orang dewasa, persiapan yang dibutuhkan kalau mau fasilitasi itu apa saja, bagaimana menggali informasi dari peserta dengan cara partisipatif dan tidak membosakan, dan lainnya.

Kenapa dulu ikut training fasilitator? karena dibayarin *#hobigratisan* sama program pendidikan lingkungan perkotaan-nya Dian Desa, dan waktu itu training dasar tersebut bakalan digunakan untuk pekerjaan sebagai fasilitator anak muda-anak muda di jogja untuk lebih mengenal kotanya, mencintainya dan menjaganya, selanjutnya diharapkan akan menginformasikan pada teman-temannya untuk sama-sama mengenal dan mencintai kotanya. Kira-kira begitulah ceritanya di tahun 2000. Lama ya?

Waktu berlalu, terus dapat kesempatan lagi *joged* di Bulan Juli yang lalu ikutan training ToP (training of participatory), yang intinya adalah menyegarkan dan mengingatkan kembali untuk menjaga ‘khitah’ dari fasilitasi (mendesain pelatihan yang partisipatif)  dan bagaimana menjadi fasilitator yang ‘baik’.

“Lho emang sulit ya jadi fasilitator?”

Ya, kalau mau yang oke dengan prinsip partisipatif (di training ini juga dijelaskan beda fasilitator dan narasumber) ya mesti belajar dari pengalaman, gak sulit, cuma mesti sering praktek aja. Misalnya nih ya, dimulai dari persiapan pelatihan itu sendiri. Apa aja sih yang mesti dipersiapkan? Yang umum sih spidol besar baik yang khusus fasilitator maupun peserta. Spidol mesti berujung besar supaya menghasilkan tulisan yang jelas. Kertas warna-warni alias metaplan, kertas plano, belum lagi kalau ada permainan bisa perlu bola, sedotan dan pernak-pernik lainnya.

Setelah printilan siap, yang lebih penting lagi adalah mempersiapkan alur-menghitung alur sehingga tercapai output. Kalau fasilitasi-nya berdua, mesti koordinasi dan bagi peran juga sama partner, siapa ngomong apa dan siapa lihat apa. Siapa lihat apa? Iya lihat siapa yang bertanggungjawab memperhatikan peserta yang suka ngantuk, yang ngeyel, yang keminter, yang penurut, yang tidak berani bersuara, yang mendominasi dan yang yang lainnya, intinya supaya semua peserta merasa nyaman dan semua bisa berpartisipasi.

Oiya, setting ruangan tuh juga penting lho. Mau roundtable apa mau u-shape atau melingkar atau bergelombang #eh. Ini demi kenyamanan dan kedekatan dalam proses fasilitasi, kalau nyaman dan dekat biasanya semua info bisa ditransfer dengan baik bolak-balik (maksudnya antar fasilitator dan peserta juga sebaliknya).

“Udah gitu doang?”

Belummm, soal alur tadi metode yang kemaren waktu pelatihan saya dapatkan adalah ORID ( Objective, Reflective, Interpretatif dan Decisional). Proses fasilitasi harus diawali dengan kondisi yang ada, fakta, realita , kemudian menggali reaksi dari fakta tersebut terhadap peserta yang selanjutnya analisa atau menggali persoalan dan apa yang harus dilakukan. Dalam proses ini diberikan contoh dalam pelaksanaan ORID. Setiap tahapnya bisa menggunakan alat dan cara yang berbeda. Cara visual adalah cara yang manjur (dari pengalaman selama ini) untuk menggugah empati peserta- apalagi di isu tertentu macam isu gender.

Uhhm, udah kepanjangan nih tulisannya. Soal ORID-nya ada beberapa pengalaman yang saya dapat sih, tapi cerita di lain judul aja ya, khawatir pada bosen *ahlesyan*.

Tips Bang Juni Tamrin (fasilitator training-nya):

  • Fasilitator harus lihai dalam merumuskan pertanyaan dan pernyataan. Mengetahui isu dasar saat fasilitasi itu penting, tapi tidak kemudian mengharuskan ahli dalam isu tersbut
  • Tambahan permainan-permaian dalam proses fasilitasi memberikan kata kunci dalam pelaksanaan fasilitasi adalah persiapan, kerjasama, komunikasi.

Apakah anda punya tips jadi fasilitator yang keren? Boleh lho berbagi di sini :D

gambar pinjem 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>