
Kartini –Korespondensi dan Informasi, sejarah mengatakan bahwa Kartini setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dipingit dan belajar dari rumah. Salah satu cara yang dipilih Kartini adalah surat-menyurat. Surat dipilih Kartini sebagai salah satu alat untuk berbagi dan mencari informasi, sehingga pada masanya Kartini telah bertukar informasi tentang pendidikan yang (tidak) untuk semua kalangan, kemiskinan, dan pergerakan anak muda, pada karibnya, Abendanon.
Kini, berbagi informasi memiliki cara dan bentuk yang makin mudah, mulai dari telepon selular, mailing-list, blog, podcast, sms, kamera digital dan lainnya. Tentu saja ini memudahkan perempuan untuk mengaksesnya. Dalam ruang lingkup tekhnologi informasi, keberadaan internet dan telepon selular menjadi salah satu yang diperhatikan fungsinya. Labibah Zain salah satu pendiri Blogfam pernah menuliskan sebuah artikel ‘Potret Pergaulan Era Global’ di Kompas tahun 2005 mengenai blog menegaskan bahwa, “…Pola pergaulan perempuan di era global ini tidak berubah, hanya saja mengalami transformasi budaya dengan adanya weblog yang terhubung lewat koneksi internet.Dengan melihat keefektifan media weblog ini mungkin sudah saatnya para aktivis jender di Indonesia memanfaatkannya sebagai media alternatif pemberdayaan perempuan di Indonesia…”
Faktanya dari berkembangnya tekhnolog informasi dan telekomunikasi, akses perempuan terhadap informasi menjadi lebih mudah. Dengan satu kali klik, lalu lintas informasi apapun ada di depan mata, itulah salah satu alasan Nurlina Purbo membuka ruang untuk ibu rumah tangga belajar komputer dan ber-internet. Efek dari terbukanya akses informasi, perempuan menjadi punya banyak pilihan, termasuk memilih profesinya. Saya kagum dengan ibu-ibu yang berjaringan (melalui internet) dan kemudian berbisnis kue, tengoklah salah satunya Klub Berani Baking atau NCC. Dapur dan kue yang tadinya lekat dengan ranah domestik, kini semua bisa melongoknya-menjadi bagian dari ranah publik.
Cerita lain, seorang ibu di Bantul yang membuat tas dari bahan perca dan gabus pun menggunakan facebook untuk promosi tasnya. Meskipun facebook yang digunakan adalah milik anaknya yang suka ke warnet. Bahkan, para pegiat isu perempuan pun sudah menggunakan mailing-list sebagai salah satu cara untuk mengadvokasi isu secara bersama. ‘Demam’ twitter pun mulai dilirik beberapa pegiat isu perempuan seperti Musdah Mulia, Eva Sundari, Neng Dara sampai Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan pun memiliki akun twitter, tentu saja tujuannya adalah berbagi informasi. Di twitter dan facebook pula bisa kita lihat kampanye isu perempuan mulai dari gerakan peduli buruh migran, donasi untuk women crisis center sampai soal ASI dan angka kematian ibu.
Mobilitas informasi yang menyampaikan isu-isu perempuan melalui tekhnologi informasi sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi gerakan perempuan. Ketika berbicara spesifikasi, alat/media yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan perempuan. Karena kebutuhan perempuan pun spesifik. Misalnya tidak bisa menggunakan komputer atau laptop untuk petani perempuan di pedalaman Poso yang listriknya terbatas, pilihannya mungkin bisa menggunakan telepon selular dengan internet mobile yang terjangkau dan pengetahuan cara penggunaannya yang efektif. Sasaran kelompok perempuan mana yang akan dikuatkan (diberdayakan) juga harus diperhatikan dalam upaya akselerasi tersebut. Apakah pekerja rumah tangga? Buruh perempuan? Perempuan pemilik UMKM? Atau Buruh migran perempuan? Karakter penggunaan dan kebutuhannya akan berbeda.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi ketika berbicara tentang perempuan dan tekhnologi informasi&telekomunikasi. Selain contoh diatas tentang akses informasi, upaya penyadaran dan penguatan ekonomi perempuan, masih banyak persoalan yang belum tersentuh dan membutuhkan tekhnologi informasi seperti rujukan untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, informasi harga bagi petani perempuan sampai pelatihan kepada NGO perempuan yang belum melek IT sebagai dukungan untuk gerakannya. Banyak bukan? Mari memilih peran apa yang akan kita lakukan untuk pemberdayaan perempuan yang lebih kuat dan efektif. Saya memulainya dengan menuliskan ini. ?
Related posts:
ps: mulai kurun waktu tahun 2005 sampai sekarang ada beberapa tulisan saya terkait dengan perempuan dan ICT di Indonesia. sehingga bisa merunut perkembangannya http://ayokesini.com/content/blog-perempuan-informasi-dan-teknologi (dimuat di kompas tahun 2005, merupakan tanggapan atas tulisan ibu labibah zain dengan judul potret pergaulan era global)
http://lembagapartisipasiperempuan.blogspot.com/2008/05/bukan-sekadar-gerakan-maya.html (dimuat di koran tempo 2008) .
jadi kalau baca tulisan versi 2011 ini bisa melihat alat mana yang paling bertahan dan bisa digunakan untuk pemberdayaan
Dulu surat, sekarang DM. keniscayaan perempuan melek IT. masih nanya dampaknya? baca lagi deh tulisan di atas.