Mumpung belum habis Q1 di 2011, sebaiknya saya akan sedikit bercerita apa aja yang sudah dilakukan dan jadi pekerjaan rumah di 2010. Semoga sih belum telat
. 2010 bercerita tentang banyak hal baik di kehidupan personal maupun profesional. Yang jelas dan yang penting adalah mendapatkan kesempatan mengunjungi Aceh sampai Papua. Amazing!
Pertama, saya akan cerita dulu soal daerahnya. Daerah yang saya kunjungi beragam. Mulai dari Sumatera, sempat mengunjungi Banda Aceh. Asal tahu saja, saya jarang ke Sumatera (cuma Riau, Batam,Bukitinggi-Sedikit Padang, Medan). Daerah yang paling sering saya kunjungi hanya dua tadinya, NTT dan Sulawesi.
Oke, apa yang saya lakukan di Banda Aceh? bertemu dengan beberapa dosen Unsyiah yang bergabung dengan Pusat Studi Wanita untuk memahami gender budget(bahasa panjangnya perencanaan dan penganggaran responsif gender). Jadwal padat, tapi menyempatkan (baca: memaksakan) untuk ikut maghrib berjamaah di masjid raya. Jadi ceritanya setelah sholat, semua pada ngaji, saya buka laptop ngerjain tugas
).Daerah lain yang saya juga kunjungi Indragiri Hilir,Kepulauan Riau dan Padang- kalau di tiga daerah ini, saya bertugas melakukan pendampingan untuk gender budget pada perencanaan daerah.
Kedua, saya menggenapi jelajah Sulawesi saya, dengan menginjakkan kaki ke Manado dan Gorontalo. Gorontalo cukup membekas di ingatan saya, karena saya cukup berharap banyak dengan provinsi ini yang selama ini #pencitraan -nya cukup berhasil di media adalah provinsi yang cukup kaya. Cukup kaget dengan jalan rusak parah dari bandara menuju pusat kota, tambah kaget ketika malam hari lampu yang nyala di jalan sangat minim, dan ketika menuju pantai untuk makan malam di warung pinggir pantai, jalannya cukup ramai tapi minim lampu dengan kontur perbukitan mirip di Ambon. Pas makan di warung, listriknya sempat padam dan memang listrik seringkali padam di daerah ini. Jauh dari #pencitraan ya? miris juga.
Selanjutnya, di Mataram saya sempat sakit dan untuk kali pertama setelah puluhan tahun, saya muntah pas jalan-jalan. Bener-bener gak asik ya, cyiinn, di Mataram tapi ngerem doang. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau dulu jaman jadi jurnalis, saya selalu kebagian daerah NTT dan Sulawesi. Entah kenapa kalau ada tugas ke Kalimantan, ujung-ujungnya cerita selalu berbalik ke NTT lagi. Nah! 2010 memecahkan rekornya, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Borneo, tepatnya di Palangkaraya.Provinsi ini sebenarnya indah, apalagi wisata sungainya. Tapi, lagi-lagi kapasitas listrik sepertinya kurang memadai, hampir setiap penginapan harus punya generator kalau gak mau dikomplain pelanggannya, sering njeglek listriknya. Dan, ya transmigrasi menunjukkan batang hidungnya ketika saya ketemu tukang cilok keliling disini
.
Yang paling fantastis adalah ke Papua, saya pernah bilang mending ke Jepang daripada ke Papua, karena tiketnya mahal dan lamanya waktu penerbangan. Tapi saya tarik itu, karena kalau dikasi kesempatan, saya pengen ke Papua lagi dan ke Papua Barat. Saya sadar ke Papua dengan berbagai beban cerita politis ketika mendampingi pemerintah daerah, tapi saya takjub dengan orang-orang muda yang bekerja di pemerintahan Papua dengan semangatnya.Salah satu isu yang tidak bisa saya jawab saat proses pendampingan adalah proses pembangunan yang kurang melibatkan perempuan adat,waktu ditanya soal ini, saya gak punya jawaban spesifik.
Saya bersyukur dipertemukan dengan perempuan dan laki-laki dari segala penjuru negeri ini, setidaknya mengingatkan saya untuk tetap berpikir bahwa keragaman itu sungguh indah adanya.