Judul tulisan ini sebenarnya meminjam apa yang pernah dikatakan seorang teman perempuan di dunia online. Meminjam? Iya karena tepatnya yang bersangkutan mengatakan, “ Gender Things is So Yesterday” . Saya ubah dikit, tapi signifikan.
Beberapa waktu yang lalu tidak sengaja menemukan statement terrsebut. Lalu saya berdiskusi dengan beberapa teman. Seorang teman mengatakan, “ hem, klasik sekali ya pemahaman kelas menengah yang kurang empati”. Teman saya mengatakan hal tersebut biasa ditemui di perempuan perkotaan, karena menganggap tidak ada persoalan dengan hak dan kesetaraan.
Selain tipikal, ketidakpahaman mengenai gender itu sendiri juga belum menyeluruh. Eh, dan gender itu bukan hanya perempuan dan berbeda dari sex atau jenis kelamin. Gender adalah bagian dari konstruksi sosial dan itu bisa berubah dan bergeser.
Gender Things? Hal-hal terkait dengan gender, feminism sampai saat ini adalah salah satu perspektif yang penting. Terutama untuk menjawab persoalan terbaru. Jadi ‘So yesterday’ itu sangat tidak beralasan. Dalam pembangunan misalnya, munculnya strategi pengarusutamaan gender yang menjadi salah satu strategi yang digunakan dalam rencana pembangunan nasional, untuk mengurangi kesenjangan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan? Iya fakta kesenjangan bisa dilihat melalui Gender Development Index atau GDI. Atau tiliklah ini sebagai salah satu referensi, mengapa isu gender menjadi satu hal yang penting dalam pembangunan. Oh, dan MDG’s, ingat kan poin yang ketiga kan ya?
Isu anti korupsi, anti perdagangan perempuan dan anak itu adalah fakta nyata yang harus dihadapi, dan itu adalah isu gender. Oh, dan kampanye menyusui itu adalah bagian dari isu gender. Tahukah anda dalam proses menyusui peran ayah dan ibu harus seimbang, kita menyebutnya dengan pola relasi yang setara dalam tumbuh kembang anak, dan ini mematahkan stereotype bahwa anak urusan ibu.
Jadi, jika anda tertarik dengan isu gender, isu perempuan, feminism. Saya terbuka lho untuk berdiskusi
. Dan ini bukan soal saling mendominasi ya, catat itu. Ini soal mengurangi kesenjangan.
gambar diunduh dari sini
"GENDER THINGS"hhmmm… aku bisa dibilang kurang paham mengenai masalah tersebut yang mungkin untuk sebagain orang sangat sensitif dan sebagian yang lainnya ga pernah terpikir …."GENDER THINGS" menurutku itu cakupan yang sangat luas. supaya lebih fokus, ku sempitkan persoalan ke persoalan anak, secara ku dah punya 1 anak dan sedang hamil anak kedua. Bisa dibilang aku ga pernah bertemu masalah "GENDER THINGS" itulah sebabnya ku katakan di awal bahwa ku kurang paham benar masalah ini.Sejak ku hamil hingga melahirkan anak pertama ku, Ibn Danish Rabbani Basri, aku dan suamiku, Badi, selalu bahu membahu untuk membesarkannya, merawatnya, mendidiknya. Malah menurutku Badi yang lebih banyak porsinya dalam persoalan mendidik Ibn. Segala pertanyaan Ibn yang kritis, Badi yang tanggap menjawabnya. Hingga mencari data di youtube tentang segala macam mesin jet, membuat paper craft pesawat terbang, membuat stir mainan dari barang bekas, dll.halah koq malah curcol disini ?Yang ku tau, "GENDER THINGS" untuk masalah rumah tangga biasa masih ada untuk orang2yang sudah jauh lebih tua daripada kita. Untuk yang sebaya kita mungkin sudah jarang. mungkin itu juga yang menyebabkan ada yang mengatakan bahwa "GENDER THINGS" is so yesterday. Tapi sekali lagi itu baru disalah satu aspek. Dan sekali lagi ku kurang paham mengenai "GENDER THINGS"curcol dikit lagi, waktu mengikuti training Produksi Video di Jogja, dimana peserta wanita dari 15 peserta hanya 2, yaitu aku dan seorang suster, kami mendapat tugas untuk membuat photo essay. salah satu kelompok yang isinya co semua, membuat photo essay bagaimana beberapa kakek2 yang sudah berumur masih bekerja keras di pasar. ku hanya bertanya,"mengapa di photo essay tersebut tak ada wanitanya? mengapa pria semua? sedangkan saya tau ada banyak nenek2 juga yang masih bekerja di pasar tersebut." hanya dengan pertanyaan sedikit tersebut mereka semua, termasuk para pengajar, langsung menganggap saya aktivis perempuan. Tentu saja saya bantah pernyataan itu …
persoalan anak salah satunya mbak. betul memang cakupannya luas. intinya memang kesetaraan, mengurangi kesenjangan, akses terhadap yang terpinggirkan. dan itu nanti masih lanjut dengan isu kelas, geografis dan lain sebagainya. hihihi, kenapa kok gak mau disebut aktivis perempuan, mbak?