Oleh : Sari Oktafiana
Karena anak –anak itu rawan. Itulah jawaban murid-muridku di kelas VII ketika kami berdiskusi mengapa harus ada hak –hak anak dan mengapa hak-hak anak itu harus dilindungi. Saat ini kami sedang belajar human rights, Kami belajar untuk mengidentifikasi tentang hak dan tanggung jawab kita sebagai manusia secara social dan mahluk pribadi.
Lalu ketika muridku mendefinisikan tentang Who are children dan what are the best for children?
Mereka punya definisi yang berbeda-beda. Untuk anak itu sendiri mereka mengidentifikasikan bahwa anak adalah manusia yang berumur dibawah 18 tahun. Sangat rentan secara fisik dan psikologi sehingga harus ada regulasi yang melindungi dan merawat anak-anak sehingga mereka bisa menjadi generasi yang mampu membawa dunia yang lebih baik di masa mendatang.” Kami adalah harapan di masa mendatang, Miss! so we have to deserve our rights!”.
What are the best for children? The main concern it must be children. Apa-apa yang yang dibutuhkan anak dan yang baik untuk anak. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi kami sebagai anak. Begitulah kira-kira jawaban muridku dalam diskusi kelas kmarin.
Lalu saya menyentil, apakah semua anak sudah mendapatkan hak-haknya semestinya? No, Not yet.
Muridku menjawab, “actually every children is free from discrimination, whatever they are, their skin, races, tribes, gender and come from rich or poor family we have treat equally.” Wow diplomatis sekali mereka menjawabnya.
Dan bagaimana dengan anak-anak jalanan, anak-anak dari daerah pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan dengan baik, belum mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak?
Dan bagaimana dengan kisah asmara Syekh Puji dan Ulfa yang notabene masih berumur 12 tahun?
Waduh miss, we don’t need to marry, we still younger. So hard and difficult for us to understand the dynamic of married. When my parents must be divorced, I can’t explain why? Cause of we are vulnerable. Parents, Government must protect and apply our rights. All children must get education, get adequate living standard and free from trafficking. I saw many Indonesian children haven’t get their rights properly yet. So we have to hand in hand together to make it happen, against children rights violence!”. Demikian jawaban muridku.
Saat bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Saya hanya bisa tertegun. Begitu kompleksnya masalah dari hak-hak anak. Mungkin kita sebagai orang tua, dan orang yang lebih dewasa hendaknya lebih arif melihat sekitar kita. Berapa jumlah anak-anak yang masih belum mendapatkan hak-haknya? Belum sekolah, bayi-bayi malnutrisi, harus bekerja ketika dia masih harus belajar dan bermain-main untuk memaknai hidup. Serta mungkin kita juga kadang kurang mempertimbangkan apa yang terbaik untuk anak. Dengan memaksakan harapan-harapan orang tua.
Children are very vulnerable…
Salam,
Sari.