oleh:Cicilia Maharani
cicilia@kampunghalaman.org
Pertanyaan
itu diteriakkan oleh Mia di hari terakhir workshop setelah foto terakhir
meredup seiring sinar projector yang perlahan hilang di dinding. Selesai sudah
untuk hari ini, ketika masing-masing dari
22 remaja perempuan yang tinggal di Hotel Prodeo (mereka tidak mau disebut penjara) saling melihat foto dan bercerita mengenai masa lalu, masa sekarang dan masa depan masing-masing dari mereka. Teman-teman yang lain menanggapi pertanyaan Mia dengan tertawa, salah satu dari mereka menjawabnya dengan,"Takdir kaleeee".
Dalam
waktu 3 hari, dengan 7 kamera digital( terima kasih untuk teman-teman yang mau
meminjamkan kameranya untuk workshop ini ;P), 3 laptop editing untuk 22 remaja
perempuan berusia 13-21, ini adalah
waktu kerja yang padat, terlebih untuk mereka yang ingin memotret
kembali karena hasil foto yang mereka ambil gelap, goyang dan ternyata setelah
dipikir-pikir lagi, ini tidak cocok dengan cerita mereka. Bergiliran mereka
bergegas memotret atau dipotret oleh teman-temannya.
yang padat juga terjadi di hari sebelumnya, ketika masing-masing mereka membuat
catatan tentang cerita mereka dan foto seperti apa yang mereka akan ambil untuk
melengkapi cerita itu. Ada yang bisa secara cepat menuangkan pikirannya, ada
yang sulit mengatakannya, ada yang hanya bisa mengingatnya di kepala, ada yang
tidak pede, ada yang malu-malu, ada yang diam dan berusaha. Saya tahu ini tidak
mudah, mereka harus melihat ke belakang, teringat keluarga yang sering
menjenguk, tapi juga keluarga yang tidak pernah datang ( karena tidak tahu,
keluarga hanya tahu mereka bekerja di kota). Melihat masa sekarang, ada yang
bertanya pada saya, “ Kak, untuk masa sekarang, boleh nggak foto kangen sama
keluarga?”. Hah ? Saya setengah tidak percaya. Mungkinkah mereka tidak hanya
terpenjara secara fisik tapi juga pikiran? Maka ketika dalam kurang dari 1 jam
mereka bisa membuat ceritanya masing-masing, saya berharap mereka merasa bangga
pada diri mereka.
juga berharap mereka bisa lebih bangga lagi pada diri masing-masing ketika
mereka sudah selesai memiilih dan membuat urutan foto, memberikan judul pada
masing-masing foto serta alasan kenapa memilih foto tersebut. Mia yang merasa
sulit untuk menuliskan alasannya, sudah dua kali mengganti pilihan fotonya,
belum juga merasa pas dengan alasan yang dia berikan sehingga bolak balik dia
minta pendapat saya. Ketika dia menghampiri saya untuk yang kesekian kalinya,
dengan secarik kertas mengibaskannya pada saya, logat betawinya yang kental
menyapa saya,” Panas ya kakak ya, eh kak, sabar ya sama Mia, begini nih otak
saya, susah banget, apalagi sejak masuk sini, bingung keluar entar mau ngapain.
Puyeng”, kepalanya geleng-geleng.
“Cerah
dong, fotomu kan langit, katanya biar cerah” kata saya pada Mia. Mia nyengir
sambil menggaruk kepalanya dengan pinsil. Untuk masa depannya, Mia memotret
langit dan awan-awam biru, yang lain memotret foto kuping karena ingin menjadi
orang yang lebih mau mendengarkan orang lain, foto bersama sipir laki-laki yang
mereka bilang ganteng karena ingin menikah dan mempunyai keluarga yang sakinah,
potret laptop, baju kerja dan kacamata karena ingin menjadi manajer, foto
sedang menghidangkan makanan karena ingin mejadi pelayan restoran. Ketika
pemilik cita cita manager ini mendengar temannya ingin menjadi pelayan
restoran, dia protes “Kenapa ?”. “ Tadinya aku pengen kerja di warnet, tapi
nggak bisa ngitung, aku mau ngebahagiain orang tua aja”, kata pemilik cita-cita
pelayan restoran. “ Kalo ngitung doang mah bisa diajarin sama Ibu penjaga,
belajar aja di warnet, tulisan jelek bisa gue ajarin”, kata pemilik cita cita
manager. Itu salah satu percakapan
mereka yang saya dengar, percakapan lain tidak terlalu jelas karena tertutup
oleh riuh rendah suara mereka. Tiap kali mereka mendengar cita-cita
teman-temannya, ada yang ingin buka salon, jadi ahli pijat, mereka semua
spontan berseru ” Amieeeen” lalu bertepuk tangan.
teman-teman di hotel Prodeo, terima kasih untuk sudah mau berbagi, ditunggu ya
pameran fotonya.
foto ini ini diadakan pada tanggal 26-29 Agustus 2008, kerja sama teman-teman
dari PKBI Jakarta, Lapas Remaja Tangerang, Kampung Halaman, Adrianne Koteen
dari San Francisco yang mencintai fotografi dan membuat banyak workshop di
Mesir, dan negara-negara lain. Ini adalah pertama kali kami berkenalan yang
berlanjut menjadi kerjasama yang sangat menyenangkan.