Belajar Memahami Adopsi Teknologi

oleh: Arif Rahmanulloh

Salah satu kecamatan yang berbatasan dengan TN Gunung
Halimun adalah kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Kecamatan ini pula yang
memiliki kekayaan berupa emas dan tanah yang subur.  Kira-kira hanya butuh waktu 3 jam saja dari Jakarta
untuk menuju ke wilayah ini.Dengan kondisi seperti itu, sumber penghidupan masyarakat
terkonsentrasi pada aktivitas berbasis pertanian, pertambangan dan buruh
perkotaan.  Tidak sedikit warga yang melakukan
aktivitas pertanian dan sekaligus menjadi penambang liar. Atau, menjadi petani
yang sesekali pergi ke kota untuk
ikut proyek pembangunan.

Dampaknya adalah, adanya lahan-lahan yang terlantar. Padahal,
apabila lahan-lahan tersebut dikelola dengan baik, maka itu dapat juga menjadi
sumber pendapatan. Masalahnya, bagaimana memanfaatkan lahan sekaligus tetap
menjaga kondisi lingkungan? Secara biofisik, sebagian wilayah Nanggung
merupakan perbukitan yang rawan longsor. Sementara di bagian lembah yang
berdekatan dengan sungai, sudah dimanfaatkan untuk pertanian sawah irigasi,
perkebunan monokultur dan lainnya.

Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk memperbaiki
sumber penghidupan petani adalah dengan mempromosikan jenis sayuran yang
toleran di bawah tegakan pohon. Jenis ini harus merupakan pilihan petani,
marketable dan sekaligus mempunyai nilai nutrisi yang penting.

Upaya mempromosikan sendiri sebenarnya bukan hanya
memperkenalkan komoditi dan cara budidayanya, tapi juga sudah harus melakukan uji
lapang dan penilaian pasar terkait. Setelah melewati tahap-tahap tersebut, maka
mulailah masyarakat diperkenalkan katuk, salah satu jenis sayuran yang terpilih
dan toleran dengan naungan.

Selain katuk sebagai komoditi, budidaya sayuran di bawah
tegakan pohon sebagai teknologi juga diperkenalkan berbarengan dengan beberapa
teknologi lain, seperti irigasi tetes dan tanaman penutup.

Ada beberapa
catatan yang bisa penulis buat di tengah proses yang masih berjalan, antara
lain:

Pertama, faktor kebijakan pangan yang sangat condong kepada
beras sangat terasa di kalangan petani. Berbagai subsidi dan insentif yang
selama ini diberikan kepada petani, lebih banyak diarahkan kepada penanaman
padi. Inisiatif terkait dengan budidaya sayuran, apalagi di wilayah yang bukan
produsen sayuran, akan mendapat tantangan berat dari sisi kebiasaan petani dan
sumberdaya, baik lahan maupun dukungan pemerintah.

Kedua, adopsi teknologi sangat berhubungan dengan preferensi
petani. Apapun bentuk teknologi dan komoditi yang diperkenalkan, petani akan
membandingkan dengan pengalaman mereka dan menghitung sesuai dengan sumberdaya
yang mereka miliki. Pun respon petani laki-laki akan berbeda dengan petani
perempuan.

Ketiga, proses adopsi teknologi dipengaruhi oleh faktor
kelembagaan petani (kelompok tani) dan interaksi yang terjadi antara petani
dengan peneliti/agen penyuluh. Petani yang memiliki grup lebih kuat cenderung
lebih aktif, dibandingkan petani yang tidak berikatan dengan grup (mandiri).
Sementara petani yang lebih sering berinterksi dengan penyuluh memiliki
pengetahuan lebih memadai sehingga mampu melakukan modifikasi pada teknologi
yang diterapkan.  ~

Related posts:

  1. Memahami Strategi Pengarusutamaan Gender dalam Usaha Industri Kecil
  2. Blog: Perempuan, Informasi, dan Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>