Informasi Kesehatan Rerproduksi adalah Investasi

‘Keponakan saya yang duduk di kelas 5-6 SD, membaca komik miiko yang saya
sendiri juga belum membaca, dan bertanyan kepada mami-nya, seperti apa rasanya
menstruasi? Apakah sakit jika sel telur
terlepas?
Dan bagaimana
proses sperma bertemu dengan sel telur dan bisa ada adik? Lain hari dia bertanya
tentang apa itu mimpi basah?’.

Saya belum melihat komik itu
dikategorikan apa di toko buku, komik seperti itu penting jika dilihat dari
alat yang digunakan untuk menginformasikan apa itu kesehatan reproduksi sejak
dini, karena menggunakan gambar yang menarik minat anak-anak (bukan gambar asal
bikin) juga disajikan dengan bahasa yang mudah diserap anak-anak, meskipun
komik ini harusnya diberi label dengan pendampingan orang tua.

Yang saya pelajari dari
keponakan saya itu, juga, syukurlah keluarganya termasuk di dalamnya adalah
mami, papi dan tante-tantenya memberikan informasi, walaupun mami-papinya
mungkin agak konservatif untuk persoalan kesehatan reproduksi sejak dini, tapi
beruntungnya adalah si keponakan bertanya pada keluarga terdekat dan bukan pada
teman-teman sebayanya (yang belum tentu mengerti juga).

Jadi pentingkah informasi kesehatan
reproduksi sejak dini? Pastinya penting, itu kenapa banyak kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat yang ingin
menguatkan penyebaran informasi kesehatan reproduksi.

Ada beberapa pemangku
kepentingan yang diperhatikan dalam persebaran informasi kesehatan reproduksi
ini, pertama orang tua dan anak-dalam hal ini penguatan informasi mengenai parenting dan menggeser persepsi tentang
tabu jika berbicara kesehatan reproduksi, jika kita berbicara tabu? Akan tahan
sampai berapa lama anda terhadap kasus-kasus pelecehan seksual dan kasus anak yang
dilacurkan menjadi komoditas berita di media?

Memberikan informasi kesehatan
reproduksi yang dilakukan secara bertahap kini juga banyak dibahas umumnya di
kalangan perkotaan, bagaimana memberikan informasi parenting terhadap masyarakat pedesaan? Sebenarnya jangkauan
pemerintah lebih jauh jika berbicara soal kespro dalam konteks masyarakat
pedesaan, karena BKKBN (yang di banyak kabupaten ada dalam Dinas KB,
Kependudukan dan lain-lain) ada sampai tingkat desa.

Di sisi lain, teman-teman di
lembaga swadaya masyarakat juga melakukan advokasi di ruang lingkup sekolah,
terhadap guru-guru yang diharapkan akan menambah materi guru ketika bertemu
dengan anak murid, juga mengenai kesehatan reproduksi tetapi lebih pada
persoalan-persoalan remaja.

Hal lain yang dilakukan juga
terhadap kelompok rentan, informasi mengenai kesehatan reproduksi ini
diberikan, misalnya kepada mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks
komersial, yang terpapar HIV , korban perdagangan anak dan perempuan yang telah
di repatriasi dan lain sebagainya.

Upaya-upaya yang dilakukan ini
menjadi investasi di masa yang akan datang, terjadinya kasus kekerasan
(seksual) terhadap anak dan remaja bisa dikurangi, secara makro pertambahan
penduduk juga bisa diprediksi. Jadi mari membuka pikiran dan mulai
berinvestasi.

Related posts:

  1. Blog: Perempuan, Informasi, dan Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>