” Bagaimana jika pacarmu
hamil?”, tanya seorang siswa SMA yang sedang melihat film Juno, film yang
dibintangi oleh Ellen Page, bercerita tentang lika-liku kehamilan tidak
diinginkan yang dialami oleh remaja SMA. Jawab temannya, ” ya, tawakal”. Tentu saja saya tertawa, apakah
kemudian dengan tawakal semuanya selesai?, teman-teman remaja SMA itu bilang
serempak,”TIDAK”. Kalau begitu, bagaimana ’tawakal’ yang disebutkan tadi
bisa menjadi tindakan yang nyata?
Partisipasi Perempuan dan HIVOS) yang dilakukan di SMA 78, Jakarta Barat,
muncul beberapa hal yang berasal dari kebutuhan
remaja tentang ’terjemahahan’ ’ tawakal’ tadi, antara lain: informasi,
ya informasi tentang kesehatan reproduksi sejak dini, sesuai dengan tumbuh
kembang remaja adalah penting, supaya tidak penasaran tentunya. Karena, mereka
mengaku bahwa ciuman adalah bentuk penasaran dan teman-teman remaja saya itu
tahu betul bahwa ciuman adalah awal dari ’segalanya’. Jadi untuk menjawab itu,
informasi tentang konsekwensi ciuman itu sendiri dan jangan lupa tips untuk
tidak selalu memikirkan ’ciuman’ itu sendiri, misalnya mencari kegiatan
positif, seperti menulis di blog:p. Ehm, tapi kalau misal ada kecenderungan ’kecanduan’
ciuman, informasi tentang penyedia konseling pun menjadi penting, entah itu
guru bimbingankonseling, orangtua dan lembaga swadaya masyarakat.
dukungan ketika remaja mengalami hal-hal yang tidak diinginkannya, misalnya siswi
yang mengalami kehamilan tidak diinginkan membutuhkan dukungan untuk tetap
dapat melanjutkan pendidikannya, dukungan untuk tidak melakukan hal- hal
seperti bunuh diri atau lari dari rumah juga diingatkan oleh teman-teman di SMA
78 ini, yang penting jangan diabaikan!karena dukungan adalah salah satu bentuk
terapi bagi mereka.
sudah tahu, bahwa ciuman adalah awal ’segalanya’, tetapi tetap saja pacaran
adalah kebutuhan, jomblo adalah nista buat mereka, bagaimana kalau begitu? Saya
mencoba ’memancing’, untuk tahu bagaimana gaya pacaran remaja itu?, remaja
perempuan teman-teman saya itu, bilang bahwa mereka berhak MENOLAK, jika pacar
mereka memaksa untuk ciuman atau melakukan hal yang membuat mereka tidak nyaman.
Wow!, rasanya satu langkah lebih maju bertemu dengan teman-teman remaja yang
sudah tahu dan sadar bahwa remaja perempuan berhak menolak dan memilih apabila
pacarnya termasuk cowok baik atau cowok ’yang mau enaknya aja’, yang penting
punya sikap dan tahu konsekwensi, hal yang juga diamini oleh rekan mereka,
kelompok laki-laki.