Suatu hari, saya berkesempatan berbincang dengan kelompok perempuan yang tinggal Ponorogo, satu kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Sebagian mereka bekerja sebagai petani tegalan, sebagian lagi sebagai buruh batu bata. Keseharian mereka diawali dari dapur. Dapur yang dimaksud di sini bukanlah dapur modern yang kering dan bersih, sebagaimana dapur yang dipunyai masyarakat perkotaan. Dapur mereka berlantai tanah, dengan rak terbuat dari bambu untuk menyimpan peralatan dapur, dan untuk memasak mereka menggunakan tungku dari tanah liat berbentuk persegi dengan dua lubang di atasnya. Di atas tungku tersebut, terdapat tempat penyimpanan kayu bakar yang dibuat dari bambu. Kayu bakar inilah yang akan menjadi bahan utama untuk menyalakan tungku.
Dapur di Indonesia adalah ruang yang lekat dengan perempuan, sesuai dengan konsep patriarki, hal-hal yang bersifat domestik identik dengan kelompok perempuan, salah satunya dapur. Di dapur, perempuan memiliki ‘ kekuasaan’ lebih besar, terutama perempuan pedesaan, dapur adalah ruang perempuan untuk beraktivitas keseharian, mulai dari memasak, mengasuh anak, bahkan bertemu dengan dengan tetangga, bisa dilakukan di dapur (meskipun letaknya di belakang).
Karena sifatnya yang domestik dan selalu ditempatkan di belakang itu kemudian muncul pandangan atau stereotipe bahwa dapur identik dengan kotor, tidak sehat dan lain sebagainya. Padahal, justru ketika melihat dapur-dimana perempuan bisa berekspresi seluas-luasnya, justru di ruang tersebutlah hak-hak perempuan dapat ditumbuhkan, salah satunya adalah hak kesehatan. Ideologi yang selalu menempatkan dapur di belakang, kotor karena hanya dijadikan ruang untuk kegiatan domestik, justru menjadi arena perebutan ruang dan penggeseran ideologi patriarki, bahwa yang ruang domestik juga harus mendukung hal-hal terkait kenyamanan, kesehatan sehingga aktivitas perempuan dapat dijalankan dengan baik.
Dapur di Indonesi dalam konteks pedesaan, seperti dapur tradisional pada umumnya di dunia ketiga, masih banyak menggunakan tungku, letak dapur seperti yang telah disebutkan diatas selalu ditempatkan di belakang, kemudian menjadi tidak dipedulikan tata letaknya, seperti pencahayaan yang cukup, ventilasi atau sirkulasi udara yang baik. Untuk kegiatan memasak, tungku masih banyak digunakan dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Tungku adalah alat tradisional yang masih dijumpai di dapur tradisional, kadang tungku yang tradisional ini tidak memiliki cerobong asap,sedangkan untuk bahan bakar yang digunakan adalah arang dan kayu bakar.
Tungku tradisional menghasilkan asap yang mengandung partikel, salah satunya adalah CO yang memiliki dampak terhadap saluran pernafasan si pemakai. Akibat dari asap tersebut, kelompok perempuan (dan anak) yang memiliki interaksi yang paling besar dengan tungku dan dapur memiliki kerentanan terhadap penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), selain diare di Indonesia, menurut Laporan perkembangan MDG’s yang dikeluarkan oleh Bappenas tahun 2004-2005, penyakit saluran pernafasan adalah penyakit pertama yang berkontribusi sebagai penyakit pertama yang menyebabkan kematian bayi.
Selain penyakit ISPA, perempuan yang aktif di dapur, memiliki kerentanan terkena penyakit paru-paru, bronkitis dan menghambat perkembangan janin (bagi perempuan hamil), selain itu asap tungku juga bisa menghasilkan panas yang bisa berefek pada kesehatan si pemakai (terutama dengan frekwensi yang tinggi), seperti kesehatan mata (katarak), kulit yang sensitif dan lain sebagainya.
Salah satu daerah yang masig banyak terdapat dapur dan tungku tradisional adalah Ponorogo, tepatnya di Desa Karangpatihan. Penulis bertemu dengan Ibu Fayatin, salah seorang perempuan dalam kelompok tersebut, mempunyai dapur yang cukup luas. Sayangnya, ruang pergantian udara atau ventilasi yang kurang memadai membuat sirkulasi udara di dapur tidak berjalan dengan baik. Seringkali asap bekas kayu bakar hanya berputar-putar di langit-langit dapur, tidak berganti dengan udara dari luar ruangan. Kondisi ini memicu kelompok perempuan rentan terhadap penyakit ISPA atau gangguan pernafasan sebab merekalah yang setiap hari bekerja di sana.
Kerentanan ini tidak dianggap sebagai ancaman serius oleh kelompok perempuan. Ibu Fatayatin mengaku tadinya dirinya tidak memedulikan hal tersebut. Setelah beberapa kali terlibat pembicaraan yang kami lakukan dalam pertemuan, kelompok perempuan sadar bahwa sirkulasi udara cukup penting.
Di Indonesia, penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar, terutama dalam aktivitas memasak masih mendominasi. Kebiasaan ini didukung dengan mudahnya akses mencari kayu bakar di lingkungan sekitar mereka. Lain halnya dengan minyak tanah atau gas elpiji yang mulai gencar disosialisasikan, namun, secara umum, sulit dicari. Intervensi yang memungkinkan dilakukan untuk mengurangi kerentanan perempuan (dan anak) dalam hal ini adalah meningkatkan kesadaran tentang ruang sirkulasi udara dalam dapur. Cara yang dilakukan adalah dengan melakukan pertemuan dengan kelompok perempuan untuk berbagi aktivitas kesehariannya dan apa yang dirasakannya. Dalam diskusi dan pertemuan-pertemuan yang digelar, kelompok perempuan bisa berbagi pengalaman. Misalnya, dari kondisi dapur ibu A yang biarpun kecil tetapi sirkulasi udaranya diperhatikan dengan cara dibandingkan dengan dapur Ibu B yang meskipun dapurnya luas tetapi hanya memiliki dua pintu sebagai media pertukaran udara.
Kerentanan perempuan terhadap penyakit ISPA di pedesaan, salah satunya disebabkan oleh sempitnya sirkulasi udara yang ada di dapur, dalam satu diskusi terkadang rasa sesak dirasakan para ibu, padahal penyakit ISPA adalah salah satu faktor yang memungkinkan ASI yang diberikan ibu tidak lancar, padahal rata-rata perempuan pedesaan, terutama yang pernah ditemui di Ponorogo, saat menyusui juga tetap melakukan aktivitas memasak dan kegiatan lainnya.
Memang tidak mudah untuk menggeser perilaku, bahwa dapur adalah ruang pertama (entry point) dimana kelompok perempuan pedesaan bisa paham akan hak-haknya mendapatkan informasi kesehatan. Informasi kesehatan perempuan ini, adalah salah satu informasi yang diberikan bagi penguatan kelompok petani perempuan di Ponorogo.
Nyatanya, dari proses diskusi kelompok perempuan, terkait dengan isu kesehatan, sedikit demi sedikit juga telah menggeser pola perilaku yang tadinya tidak sehat menjadi berubah, misalnya terkait dengan air bersih dan sanitasi, karena rata-rata rumah pedesaan masih menggunakan air tanah dalam melakukan kegiatan mandi, cuci, maka untuk kepentingan buang air disadarkan pentingnya jarak antara kamar mandi dan tempat buangan kotoran, tentu saja penguatan kesadaran ini melalui proses diskusi antar kelompok perempuan dengan pendamping di desanya masing-masing.
Pentingnya kelompok perempuan untuk saling berbagi pengalaman kesehariannya ternyata mampu menggeser sedikit demi sedikit ke arah kehidupan yang lebih sehat. Tidak hanya itu,terkait dengan kebiasaan menggunakan kayu bakar- isu konservasi lingkungan juga menjadi salah satu informasi yang diterima oleh kelompok perempuan, misalnya dalam mencari kayu bakar- ranting-ranting lah yang dipilih untuk kebutuhan itu, sehingga tidak perlu menebang pohon. Karena pemilihan bahan bakar di kelompok pedesaan, keputusan masih berada di kelompok perempuan
Dengan pintu masuk isu domestik yaitu dapur, hak informasi mengenai kesehatan kelompok perempuan dan anak dapat dilakukan, salah satu pembelajaran yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesehatan perempuan pedesaan dimulai dari kebersihan dapur dan higienitas makanan yang dihasilkan (misalnya tidak bercampur dengan asap). Diawali dari dapur, upaya peningkatan kualitas perempuan (dan anak) bisa dilakukan serta upaya melakukan konservasi lingkungan.