Air dan Perempuan

Kebutuhan akan air bersih adalah
salah satu isu penting untuk peningkatan kualitas kehidupan perempuan, terutama
perempuan yang hidup di daerah tertinggal dan dekat dengan ‘kemiskinan’. Ketersediaan
air bersih adalah salah satu isu yang kini diangkat menjadi isu utama dalam
melihat upaya dalam mencapai target MDGs.

Mengapa air bersih? Karena air
bersih sangat dekat dengan kelompok perempuan. Hampir di seluruh desa-desa yang
kebetulan saya kunjungi, penyediaan air adalah tanggung jawab kelompok
perempuan, entah itu ibu maupun anak perempuan. Meskipun saya juga menemukan
kelompok laki-laki yang juga membawa atau mencari air bersih untuk
rumahtangganya. Lalu apa bedanya, air dan kelompok laki-laki-perempuan.

Mengenai bedanya, jika saya menanyakan
bagaimana kelompok perempuan mengambil air bersih? Ibu-ibu di sebuah desa di
Pacitan misalnya mengatakan bahwa sumber air dan bak tampungan air yang
dibangun oleh pemerintah setempat (dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum) dibangun
di daerah yang cukup jauh dari pemukiman mereka dan jauh berada di bawah
(kebetulan desa yang saya kunjungi letaknya di atas dan ingat secara geografis,
Pacitan adalah daerah perbukitan). Jauhnya seberapa, para ibu-ibu tersebut
tidak pasti dalam menyebut kilometernya, yang jelas dalam sehari mereka harus
turun ke ‘ bawah’ untuk mengambil air bersih demi kepentingan rumah tangganya,
kadang mereka harus berjalan dengan membawa beberapa ember untuk kebutuhan
sehari semalam.

Bagaimana dengan kelompok laki-laki? Bapak-bapak yang juga memiliki
tanggung jawab untuk mencari air, menggunakan sepeda atau sepeda motor untuk
menggunakannya, karena rata-rata aset seperti kendaraan mayoritas di pedesaan
masih dipegang oleh kelompok laki-laki dengan justifikasi laki-laki lebih
dinamis dan harus mencari uang meskipun jauh.

Mungkin banyak pernyataan juga dengan kondisi seperti itu kelompok
perempuan harus belajar naik motor atau apapunlah itu, tapi itu bukan jawaban
yang hendak saya tawarkan dalam melihat pembangunan infrastruktur sarana dan
prasarana untuk ketersediaan air bersih.

Para perencana harus melihat kondisi yang berbeda ini, persoalan akses
terhadap aset yang memudahkan untuk mencari air,perempuan jalan kali-laki-laki
naik sepeda atau naik motor dengan membawa jumlah ember yang sama. Padahal
dalam pembanguan kerja rumah tangga, air terkait erat dengan kerja domestik dan
itu adalah peran perempuan. Oleh karena itu harus diperhitungkan betul jarak
tempat atau sumber air yang dekat di daerah pemukiman, ini berguna untuk
mengurangi beban kerja domestik kelompok perempuan. Membicarakan tempat strategis juga harus
dibicarakan dengan kelompok perempuan sasaran proyek air bersih, ini rupanya
yang sering dilupakan bahwa yang dianggap strategis oleh pemerintah daerah
belum tentu strategis bagi kelompok perempuan atau masyarakat miskin lainnya.

Kemudian ketinggian dan material bak penampungan air juga diperhatikan,
bagaimana pengguna bisa menjangkau dan aman ketika menggunakan fasilitas umum
tersebut. Misalnya saja, banyak yang membuat tampungan air dengan tinggi 2
meter padahal rata-rata perempuan tingginya 1, 6, meskipun selang air bisa
menjawab, tetapi jika diperhitungkan betul kenyamanan si pemakai, maka anggaran
daerah tak perlu boros sampai ratusan juta demi membeli selang tang tiap triwulan
ganti.

Material dari infrastruktur pendukung ketersediaan air bersih yang dimaksud
adalah yang aman tidak memperbesar kerentanan si pengguna, misalnya tidak licin
dan tentunya penerangan di fasilitas umum seperti ini juga harus diperhatikan,
supaya ’available’ 24 jam.

Jika telah banyak sumber atau bak penampungan air telah banyak dibangun
secara strategis dan responsif gender, kualitas hidup bisa diperbaiki, karena
air bersih tidak sulit, peningkatan kesehatan bisa dimulai dengan air bersih.